-->

Merajut Kata...


  • Home
  • About Me
  • Share
  • Bis_QaL
  • Uswatunaa
  • Tarbiyah
  • Hidayatullah
  • Lir ILir

Kamis, 01 Januari 2015

Secercah Kisah Bersamanya...

Kami Membanggakanmu Ayah Ibu


Tak pelak lagi, entah pertanyaan yang sudah yang keberapa. Dikala mengawali interaksi dengan mereka yang sudah terlebih dulu menghirup oksigen keimanan di lembaga Hidayatullah. Pertanyaan yang sudah akrab ditelinga jika sebuah kata sudah terangkai menjadi kalimat tanya,”Sahlah anaknya  (ustadz) sapa?” (bahkan terkadang beberapa diantaranya menyebutkan nama ustadz yang mereka kenal, untuk membenarkan pernyataannya kalau saya adalah anak beliau), namun dengan sigap dan tetap percaya diri, serta diiringi senyum hangat ,”Sahlah bukan siapa2 di lembaga namun hanyalah seorang santri, orang tua sahlah adalah orang luar dan bukan bagian dari Hidayatullah, bukan jamaah, mereka tinggal di kampung salah satu desa di Bulukumba, Sulawesi Selatan”. jawabQ


Q pun tidak tau bagaimana ekspresi mereka setelah mendapatkan jawaban dariQ. Sebab hanya bisa merasai dalam kata tanpa ekspresi  . Namun, sempat juga ada yang bertanya dalam salah satu grup WA Lintas Generasi dimana Q hanyalah menjadi penyimak setia, awal bergabung pertanyaa serupa pun menghampiri dr mereka generasi senior Gutem (mereka sudah tersebar diberbagai penjuru), bahkan ada yang langsung japri waktu itu sapa tau ia mengenal sahlah gitu. 

Q pun menjelaskan seadanya bahwa Q baru ada di Gutem semasa kuliah jadi Q pun tidak banyak mengenal mereka karena tidak sezaman dengannya. Namun, suatu ketika jelang beberapa waktu lamanya dan juga di Grup yang sama, seorang ibu bertanya,”Sahlah itu (anaknya) sapa? (pertanyaan yang menggambarkan diajukan kepada ibu2 yang lain). Jadi Q pun sekedar membaca, tetapi tiba-tiba seorang ibu yang menjawab,”Sahlah itu anak angkatnya ibu Yuli, alumni Settis”. Q hanya tersenyum membacanya ternyata ada pengakuan yang patut dibanggakan, hihi #Kesenangan (kenalan ma ibu2 akan mendapatkan banyak pengalaman, do’a ketulusan, serta penjelasan2 yang baik jika bertanya padanya) Alhamdulillah banyak menemui sosok yang memberikan sikap dan perlakuan bagai orang tua bagiQ.

Sepertinya Q harus melukiskan Sang Mentari dan Rembulan dalam kata oleh rajutan jemari ini, keduanya yang telah diamanahi untuk memberikan sinaran hati dan cintanya kepada kami (yang belum mampu membalas cintanya yang tanpa batas itu) kelima anaknya: Masniati, Rismawati, Gustina, Sri Hartati, dan Suryadi. Empat anaknya sudah berkeluarga yang memiliki pasangan masing-masing satu, selain yang keempat dan Cucunya baru empat :) . Nama ayah adalah Condeng, sedang Nama Ibu adalah Marni.

Ayah bukanlah sosok yang mengenyam pendidikan di bangku sekolah hingga selesai (beliau pernah belajar di Sekolah Dasar, namun tidak sempat memiliki ijazah mengingat waktu itu tidak memiliki biaya untuk pembayaran ijazah ‘katanya’, kalau ibu alhamdulillah ia mempunyai ijazah ‘Q sempat melihatnya. Namun keduanya bisa baca tulis) dengan keadaan yang seperti itu bukan berarti mereka tidak tau apa-apa justru keduanya pun memiliki pemahaman ilmu. Ilmu yang mereka pelajari dari alam serta interaksi dengan orang lain.

Keduanya bukanlah penghafal al-Qur’an dan memahami sepenuhnya sebagaimana di era sekarang yang menjadi sorotan utama adalah menciptakan keluarga berbasis Qur’ani, keduanya tidak pernah duduk di majelis ilmu sebagaimana sekarang telah banyaknya majelis-majelis ta’lim. Dan tidak menutup kemungkinan kalau generasi sebelumnya menjalani hal yang sama, namun pelaksanaan kewajiban sebagai Muslim seperti shalat, zakat, dan lainnya tetap terlaksana. Kami anak-anaknya terlahir sebagai seorang Muslim sudah menjadi anugerah terbesar bagi kami, sebab hidayah itu berpihak pada kami pula. Alhamdulillah...

Ayah hanyalah sosok yang berterik mentari di luar sana, bekerja di kebun. Keringatnya selalu saja membasahi pakaiannya, tetesan keringat yang setiap hari menyatu dengan buliran-buliran tanah  yang telah dicangkulnya, punggungnya yang kokoh menjadi penyanggah kayu2 bakar yang di kumpulkannya, semua yang dilakukannya adalah untuk tetap menjadi penopang ekonomi keluarga, menjadi ayah yang penuh tanggung jawab agar buliran nasi tetap bisa terkunyahkan oleh mulut ini, dan lambung bisa terisi sehingga tak berkesempatan mengenal kata ‘ kelaparan’.

Selain ayah, ibu pun memiliki pekerjaan Menjahit untuk membantu keuangan keluarga. Suara mesin itu sudah sangat akrab ditelinga, ibu dianugerahi ketajaman mata untuk senantiasa melewati malamnya, menyambung kain-kain yang sudah terpolakan. Ya seperti itulah tuntutan keluarga kami, kelelahan dan letih tersisa di rumah. Ujungnya, dahulu, pendidikan agama yang sangat kental tak begitu akrab dengan kami namun hal yang prinsip telah tertunaikan. 

Tapi dari keduanyalah berawal sehingga kami banyak mengetahui hal-hal yang bisa dikatakan sangat sederhana namun sangat berbekas pula hingga sekarang, misal ibu yang mengajarkan lafal dzikir setelah sholat dengan menggunakan jari tuk menghitungnya, ayah yang mengajarkanku bagaimana membaca dan melihat waktu pada jam dinding. Sungguh sangatlah sederhana namun pengajarannya tak akan musnah, sebab tetap teramalkan hingga sekarang.

kami anak-anaknya tidak pernah meliat keduanya berselisih mengenai hubungan keluarga satu sama lain, kami tidak pernah dicecoki sederetan jadwal rumah yang pada umumnya dimiliki keluarga orang lain. Namun seingatQ, kami terdidik mandiri secara alamiah tatkala sudah bisa mengambil peran membantu ibu dirumah. Sebab ibu tidak pernah menetapkan dan menyampaikan secara lisan apalagi secara turtulis akan tugas-tugas kami masing-masing. Kami sangat menikmati masa bermain sepulang sekolah. Kata ‘jangan’ dan ‘tidak boleh’ sangat jarang kami dengarkan darinya ketika meminta izin untuk ke suatu tempat. Bisa jadi hal ini menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan suatu kepercayaan.

Ayah IbuQ dua pribadi yang selalu mengharapkan kami menjadi yang terbaik. Tergambarkan bagaimana memenuhi dan membantu kami ketika ada tugas berupa hasil kerajinan tangan semasa SD. Ketika tugasnya membuat sapu lidi maka ayah lah yang mengampil peran itu. Ayang yang mengambilkan janurnya, namun aQ yang ditugaskan sendiri untuk membersihkan dari daun kelapanya. Seharian menegrjakannya setelah capek dan pergi istirahat, tetapi ketika besoknya saya hendak ke sekolah. Ternyata si sapu sudah terhimpun rapi dengan ikatannya plus ukiran nama saya sesuai akta khas letter lait sang Ayah. aQ pun seneng karena setiba di sekolah sapu milikku berbeda sendiri dan selalu menjadi incaran guru-guru tuk di bawah pulang ke rumahnya. Begitupun dengan ibu, beliau akan membantu tuk membuatkan tugas kerajinan tangan jika urusannya berhubungan dengan kain perca. Keduanya selalu berusaha memenuhi segala kebutuhan kami sesuai yang kami inginkan. Sungguh, Kerjasama yang saling melengkapi.

Ayah pun selalu mengapresiasikan sebuah hadiah kecil dan sangat sederhana darinya ketika aQ telah penerimaan raport dan memperoleh peringkat. Mungkin bisa dikatakan hadianya yang diwujudkan dalam bentuk fisik sangatlah biasa, namun esensi akan pemberiannya sarat akan makna yang tersirat. Waktu itu pun senyumQ sangat bermekaran penuh, ketika disodorkan senengnya bukan kepalang padahal hanyalah beberapa lembaran pulus yang bisa dipake jajan seketika. 

Namun, ketika memberikannya ayah tidak lupa menyertainya seuntaian kata yang saat itu antara saya denger atau tidak karena ketidaksabaran tuk main dan jajan lagi. Kalimatnya cukup sederhana, namun ternyata lagi-lagi masih saja berbekas beliau hanya berucap,”Maaf hanya ini yang bisa saya kasi, sebab saya tidak memilikinya dengan jumlah yang banyak, jika hal yang tidak bersangkut paut dengan pulus dan hanyalah berupa tenaga, maka saya akan mengusahakannya sebaik mungkin, buat kalian”.

Banyak hal yang ayah lakukan bagaimana mendidik kami, meskipun tidak memahami sepenuhnya waktu itu bahwa seperti itulah caranya mendidik kami, bahkan hal yang sangat akrab dengan kami yaitu adanya sebuah cambuk yang terbuat dari karet panjangx sekitar ½ meter yang masing-masing ujungnya di model dengan berbeda. (yang satu berbentuk kepala ular dan ujung yang satunya berbentuk kepala naga). 

Maksud di buatnya cambuk itu ayah pun menyampaikannya dan di dengarkan olehQ yaitu jika kami anak-anaknya bersikap atau bertingkah aneh-aneh (melakukan tindakan atau pergaulan yang diluar kewajaran dan bisa menimbulkan aib) jika kejadiannya didalam rumah maka akan mendapat bagian cambuk yang ujungnya berbentuk kepala ular namun kalau tindakannya di luar rumah maka akan mendapat bagian ujung cambuk berbentuk kepala naga. Cambuk itu pun diletakkan ditempat yang sangat mudah dilihat kedua bola mata ini. Namun, seingatQ cambuk itu tidak pernah mengenai kulit anak-anaknya. Alhamdulillah....

Kami menjalani didikan orang tua yang seperti itu, didikan yang mungkin sangat jauh dari teori-teori mendidik anak yang sangat banyak disuguhkan akhir-akhir ini. Q pun merasainya hanya berjalan secara alami. Karena Q pun tidak pernah melihat keduanya asyik masyuk membuka lembaran-lembaran buku parenting. Namun, kami melewati masa-masa anak-anak tanpa berhadapan sejuta larangan ini itu sebab kami pun tidak bertingkah yang aneh-aneh kami tetap menajdi yang baik-baik saja. 

Melewati masa sekolah dengan apa adanya, sehingga kadang ane berpikir datar-datar aja ketika ada seorang teman yang memiliki banyak aturan di rumahnya apalagi tidak mudah mendapat izin dari orang tua yang saya anggap bukan untuk neko-neko. (tapi seperti itulah didikan orang tuanya juga padanya) ga ada yang mesti di salahkan secara orang tua mereka berpendidikan secara formal. Sedang orang tuaQ hanya berkutat dengan alam setiap hari  J

Namun, suatu ketika aQ terperanjat tatkala telah beranjak kuliah di Settis Gutem kalo nggak salah memasuki semester 7 waktu itu, di atas lemari tempatQ yang paling nyaman tuk duduk bersantai bahkan tak jarang menjadi incaran teman dan adik2 yang lain tuk menikmatinya juga ketika aQ tidak berada di atas lemari. Hehe... ya aQ asyik membuka lembaran-lembaran buku yang saya beli ketika hendak jajan di Kafe, tapi ternyata sebelum jajan mata tertuju ke etalase yang didalamnya telah tersusun rapi buku-buku jualan. 

Akhirnya salah satu buku menarik perhatianQ aQ pun mengambil dan mencocokkan harga dengan uang yang saya pegang, Alhamdulillah cukup untuk membelinya keinginan untuk menikmati jajanan yang sudah terbayang sebelumnya di tepis sesaat dulu. Nelen iler dech, hhmmmm tapi nggak juga sech :-P. 

Buku itupun menjadi milikQ judulnya “Prophetic Parenting; Cara Nabi saw Mendidik Anak”.

Awalnya saya pun menjajaki daftar isinya, sudah menjadi kebiasaan ketika ingin membaca buku memilih Bab atau Subbab yang menarik perhatian bagiQ. Ketika menemukan tema yang beberapa ada kesamaan yang telah dilakukan orang tua untukku (Q bahkan beranggapan bahwa cara yang orang tua lakukan menjadi hal yang tidak lazim pada orang tua yang lain dalam mendidik). Tema yang menarik perhatian saya waktu itu mengenai, memberikan hadiah serta bagaimana memberi hukuman2 kepada anak-anaknya jika terdapat kesalahan..

Akhirnya saya pun melahapnya sampe tuntas. Membacanya seakan sambil menggambarkan kembali apa yang pernah dilakukan orang tua kepadaQ. Setelah itu saya pun bergumam bahwa Ayah bukanlah sosok yang biasa-biasa saja dalam mendidik kami, sebab Q hanya bisa membaca tuntunan mendidik itu tatkala sudah kuliah. Q pun mengambil kesimpulan sederhana bahwa dalam mendidik ala Nabi saw tidak mesti meraih sedereta ijaZah, atau telah melewati masa pendidikan formal di bangku sekolah. Namun, seorang “Petani Tulen Ayah kami” kebanggan kami pun mampu melakukannya. Meskipun sampai sekarang saya belum menanyakan langsung kepada beliau dari mana mereka mempelajarinya.

Saat ini raga Qt telah terpisah jauh, hanya melalui gelombang suaralah yang membuat kita saling mengungkap kerinduan. Ini adalah salah satu pilihanQ menjalani kehidupan seperti ini dan terima kasih tidak mempersulit jalanQ. Meskipun masih ada bayang-bayang untuk perizinan pada hal yang lebih sakral akan kedepannya nanti. Namun, saya berharap kelembutanmu tetap terpancarkan darimu meskipun engkau sedikit berseberangan paham terhadap apa yang saya inginkan nantinya. 

Namun, Allah lah yang menggenggam hatimu sebab ini adalah kebaikan penuh yang kan ku jalani. Satu harapQ semoga kata “Jangan dan tidak boleh” tetap tidak berlaku jika memang ada nilai kebaikan untukQ. Karena salah satu pertimbangan bahwa dengan tetap berada dalam pilihan ini maka akan membantuQ tuk menjadi Sholehah untuk Kalian dzikir-dzikir yang tak pernah usang oleh lisanQ #Penuh Harap pake binggiiiitzzzz

Q Cinta, Sayang, Rindu & Bangga Kepadamu

Tetesan Keringatmu yg tak terbilang telah menyatu ke dalam tanah.
Langkahmu di pagi hari menyiratkan tanggungjawab penuh kepada kami keluarga kecilmu.

Helaian rambutmu yang telah memutih bertanda dirimu telah banyak memberikan makna hidup kepada kami.

Kami pun bangga dan penuh kesyukuran telah memilikimu.
Semoga kami anak2mu menjadi Sholeh/ah untukmu.

Hanya itu yang mampu kami upayakan, sebab harta kami tak punya.
Kami hanya berusaha untuk menjadi inventaris yang bermanfaat buat kalian di akhirat nanti.

*Ayah_IbuQ*


Berada jauh darimu bukan berarti sepenuhnya meninggalkanmu...
Namun Q hanya berusaha meninggalkan kesalahan2 sikap yang bakal terjadi jika raga ini tetap bersamamu yang sangat kurasai...

Segala kekhilafan yang secara dzahir akan terkikis jika fisik ini tidak berada di bawah atap yang sama...

Tapi jiwa ini seiring dengan lafadz2 doa selalu ada untukmu...
Maafkan daku yang tidak memiliki inventaris berupa materi untuk kuberikan padamu...

Ya, Aq hanya ingin mnjadi sholehah untukmu ... "salah satu inventaris dunia akhirat yg telah di janjikan Rasulullah saw bagimu yg bergelar:

*Ayah_IbuQ*



‪#‎BerharapSholehah
Diposting oleh Sahlah al_Ghumaishaa' di 20.22
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: About Me, Bangga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Baik Memberikan Pengaruh Yang Baik

Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Arsip Blog

  • ▼  2015 (1)
    • ▼  Jan (1)
      • Secercah Kisah Bersamanya...
  • ►  2014 (29)
    • ►  Des (1)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Jun (2)
    • ►  Apr (6)
    • ►  Mar (1)
    • ►  Feb (6)
    • ►  Jan (12)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Des (9)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Okt (2)
    • ►  Apr (3)
    • ►  Mar (1)
  • ►  2012 (1)
    • ►  Okt (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  Mar (2)

Members

IQRO'...

  • About alGhumaishaa
  • Tanah Ogi Wanuakku...
  • Sulawesi Pa'rasanganta'
  • Pada'idi Pada'elo... Sipatuo Sipatokkong...
  • Menggurat Sejarah Tanah Air
  • Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS)
  • Kajian Feminisme
  • Islamic Thought and Civilization
  • Situs Hidayatullah
  • Miniatur Kampus Peradaban Hidayatullah
Sahlah al_Ghumaishaa'
Lihat profil lengkapku

Label

About Me Bis_QaL Cat. Ustadz Hidayatullah Khauf Lir ILir Merangkai Kata Mengikuti Kata Hati Opini Rindu Share Tarbiyah Uswatunaa

Laman

  • Home
  • Review Buku Broken Crucifix
  • Take Home...
  • Dakwah Pengembangan Masyarakat
  • Uraian Ujian Tengah Semester
  • Pergulatan Filosofis Ibn Sina, Imam al-Ghazali dan Ibn Rusyd



Tema Jendela Gambar. Diberdayakan oleh Blogger.