Kami Membanggakanmu Ayah
Ibu
Tak pelak lagi, entah pertanyaan yang sudah yang keberapa. Dikala mengawali
interaksi dengan mereka yang sudah terlebih dulu menghirup oksigen keimanan di
lembaga Hidayatullah. Pertanyaan yang sudah akrab ditelinga jika sebuah kata
sudah terangkai menjadi kalimat tanya,”Sahlah anaknya (ustadz) sapa?” (bahkan terkadang beberapa
diantaranya menyebutkan nama ustadz yang mereka kenal, untuk membenarkan
pernyataannya kalau saya adalah anak beliau), namun dengan sigap dan tetap percaya
diri, serta diiringi senyum hangat ,”Sahlah bukan siapa2 di lembaga namun
hanyalah seorang santri, orang tua sahlah adalah orang luar dan bukan bagian
dari Hidayatullah, bukan jamaah, mereka tinggal di kampung salah satu desa di
Bulukumba, Sulawesi Selatan”. jawabQ
Q pun tidak tau bagaimana ekspresi mereka setelah mendapatkan jawaban
dariQ. Sebab hanya bisa merasai dalam kata tanpa ekspresi . Namun, sempat juga ada yang bertanya dalam
salah satu grup WA Lintas Generasi dimana Q hanyalah menjadi penyimak setia,
awal bergabung pertanyaa serupa pun menghampiri dr mereka generasi senior Gutem
(mereka sudah tersebar diberbagai penjuru), bahkan ada yang langsung japri
waktu itu sapa tau ia mengenal sahlah gitu.
Q pun menjelaskan seadanya bahwa Q
baru ada di Gutem semasa kuliah jadi Q pun tidak banyak mengenal mereka karena
tidak sezaman dengannya. Namun, suatu ketika jelang beberapa waktu lamanya dan
juga di Grup yang sama, seorang ibu bertanya,”Sahlah itu (anaknya) sapa?
(pertanyaan yang menggambarkan diajukan kepada ibu2 yang lain). Jadi Q pun
sekedar membaca, tetapi tiba-tiba seorang ibu yang menjawab,”Sahlah itu anak
angkatnya ibu Yuli, alumni Settis”. Q hanya tersenyum membacanya ternyata ada
pengakuan yang patut dibanggakan, hihi #Kesenangan (kenalan ma ibu2 akan
mendapatkan banyak pengalaman, do’a ketulusan, serta penjelasan2 yang baik jika
bertanya padanya) Alhamdulillah banyak menemui sosok yang memberikan sikap dan
perlakuan bagai orang tua bagiQ.
Sepertinya Q harus melukiskan Sang Mentari dan Rembulan dalam kata oleh
rajutan jemari ini, keduanya yang telah diamanahi untuk memberikan sinaran hati
dan cintanya kepada kami (yang belum mampu membalas cintanya yang tanpa batas
itu) kelima anaknya: Masniati, Rismawati, Gustina, Sri Hartati, dan Suryadi.
Empat anaknya sudah berkeluarga yang memiliki pasangan masing-masing satu,
selain yang keempat dan Cucunya baru empat :) . Nama ayah adalah Condeng, sedang
Nama Ibu adalah Marni.
Ayah bukanlah sosok yang mengenyam pendidikan di bangku sekolah hingga
selesai (beliau pernah belajar di Sekolah Dasar, namun tidak sempat memiliki
ijazah mengingat waktu itu tidak memiliki biaya untuk pembayaran ijazah
‘katanya’, kalau ibu alhamdulillah ia mempunyai ijazah ‘Q sempat melihatnya.
Namun keduanya bisa baca tulis) dengan keadaan yang seperti itu bukan berarti
mereka tidak tau apa-apa justru keduanya pun memiliki pemahaman ilmu. Ilmu yang
mereka pelajari dari alam serta interaksi dengan orang lain.
Keduanya bukanlah penghafal al-Qur’an dan memahami sepenuhnya sebagaimana
di era sekarang yang menjadi sorotan utama adalah menciptakan keluarga berbasis
Qur’ani, keduanya tidak pernah duduk di majelis ilmu sebagaimana sekarang telah
banyaknya majelis-majelis ta’lim. Dan tidak menutup kemungkinan kalau generasi
sebelumnya menjalani hal yang sama, namun pelaksanaan kewajiban sebagai Muslim
seperti shalat, zakat, dan lainnya tetap terlaksana. Kami anak-anaknya terlahir
sebagai seorang Muslim sudah menjadi anugerah terbesar bagi kami, sebab hidayah
itu berpihak pada kami pula. Alhamdulillah...
Ayah hanyalah sosok yang berterik mentari di luar sana, bekerja di kebun.
Keringatnya selalu saja membasahi pakaiannya, tetesan keringat yang setiap hari
menyatu dengan buliran-buliran tanah
yang telah dicangkulnya, punggungnya yang kokoh menjadi penyanggah kayu2
bakar yang di kumpulkannya, semua yang dilakukannya adalah untuk tetap menjadi
penopang ekonomi keluarga, menjadi ayah yang penuh tanggung jawab agar buliran
nasi tetap bisa terkunyahkan oleh mulut ini, dan lambung bisa terisi sehingga
tak berkesempatan mengenal kata ‘ kelaparan’.
Selain ayah, ibu pun memiliki pekerjaan Menjahit untuk membantu keuangan
keluarga. Suara mesin itu sudah sangat akrab ditelinga, ibu dianugerahi
ketajaman mata untuk senantiasa melewati malamnya, menyambung kain-kain yang
sudah terpolakan. Ya seperti itulah tuntutan keluarga kami, kelelahan dan letih
tersisa di rumah. Ujungnya, dahulu, pendidikan agama yang sangat kental tak begitu
akrab dengan kami namun hal yang prinsip telah tertunaikan.
Tapi dari
keduanyalah berawal sehingga kami banyak mengetahui hal-hal yang bisa dikatakan
sangat sederhana namun sangat berbekas pula hingga sekarang, misal ibu yang
mengajarkan lafal dzikir setelah sholat dengan menggunakan jari tuk
menghitungnya, ayah yang mengajarkanku bagaimana membaca dan melihat waktu pada
jam dinding. Sungguh sangatlah sederhana namun pengajarannya tak akan musnah,
sebab tetap teramalkan hingga sekarang.
kami anak-anaknya tidak pernah meliat keduanya berselisih mengenai hubungan
keluarga satu sama lain, kami tidak pernah dicecoki sederetan jadwal rumah yang
pada umumnya dimiliki keluarga orang lain. Namun seingatQ, kami terdidik
mandiri secara alamiah tatkala sudah bisa mengambil peran membantu ibu dirumah.
Sebab ibu tidak pernah menetapkan dan menyampaikan secara lisan apalagi secara
turtulis akan tugas-tugas kami masing-masing. Kami sangat menikmati masa
bermain sepulang sekolah. Kata ‘jangan’ dan ‘tidak boleh’ sangat jarang kami
dengarkan darinya ketika meminta izin untuk ke suatu tempat. Bisa jadi hal ini
menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan suatu kepercayaan.
Ayah IbuQ dua pribadi yang selalu mengharapkan kami menjadi yang terbaik.
Tergambarkan bagaimana memenuhi dan membantu kami ketika ada tugas berupa hasil
kerajinan tangan semasa SD. Ketika tugasnya membuat sapu lidi maka ayah lah
yang mengampil peran itu. Ayang yang mengambilkan janurnya, namun aQ yang
ditugaskan sendiri untuk membersihkan dari daun kelapanya. Seharian
menegrjakannya setelah capek dan pergi istirahat, tetapi ketika besoknya saya
hendak ke sekolah. Ternyata si sapu sudah terhimpun rapi dengan ikatannya plus
ukiran nama saya sesuai akta khas letter lait sang Ayah. aQ pun seneng karena
setiba di sekolah sapu milikku berbeda sendiri dan selalu menjadi incaran
guru-guru tuk di bawah pulang ke rumahnya. Begitupun dengan ibu, beliau akan
membantu tuk membuatkan tugas kerajinan tangan jika urusannya berhubungan
dengan kain perca. Keduanya selalu berusaha memenuhi segala kebutuhan kami
sesuai yang kami inginkan. Sungguh, Kerjasama yang saling melengkapi.
Ayah pun selalu mengapresiasikan sebuah hadiah kecil dan sangat sederhana
darinya ketika aQ telah penerimaan raport dan memperoleh peringkat. Mungkin
bisa dikatakan hadianya yang diwujudkan dalam bentuk fisik sangatlah biasa,
namun esensi akan pemberiannya sarat akan makna yang tersirat. Waktu itu pun
senyumQ sangat bermekaran penuh, ketika disodorkan senengnya bukan kepalang
padahal hanyalah beberapa lembaran pulus yang bisa dipake jajan seketika.
Namun, ketika memberikannya ayah tidak lupa menyertainya seuntaian kata yang
saat itu antara saya denger atau tidak karena ketidaksabaran tuk main dan jajan
lagi. Kalimatnya cukup sederhana, namun ternyata lagi-lagi masih saja berbekas
beliau hanya berucap,”Maaf hanya ini yang bisa saya kasi, sebab saya tidak
memilikinya dengan jumlah yang banyak, jika hal yang tidak bersangkut paut
dengan pulus dan hanyalah berupa tenaga, maka saya akan mengusahakannya sebaik
mungkin, buat kalian”.
Banyak hal yang ayah lakukan bagaimana mendidik kami, meskipun tidak
memahami sepenuhnya waktu itu bahwa seperti itulah caranya mendidik kami,
bahkan hal yang sangat akrab dengan kami yaitu adanya sebuah cambuk yang terbuat
dari karet panjangx sekitar ½ meter yang masing-masing ujungnya di model dengan
berbeda. (yang satu berbentuk kepala ular dan ujung yang satunya berbentuk
kepala naga).
Maksud di buatnya cambuk itu ayah pun menyampaikannya dan di
dengarkan olehQ yaitu jika kami anak-anaknya bersikap atau bertingkah aneh-aneh
(melakukan tindakan atau pergaulan yang diluar kewajaran dan bisa menimbulkan
aib) jika kejadiannya didalam rumah maka akan mendapat bagian cambuk yang ujungnya
berbentuk kepala ular namun kalau tindakannya di luar rumah maka akan mendapat
bagian ujung cambuk berbentuk kepala naga. Cambuk itu pun diletakkan ditempat
yang sangat mudah dilihat kedua bola mata ini. Namun, seingatQ cambuk itu tidak
pernah mengenai kulit anak-anaknya. Alhamdulillah....
Kami menjalani didikan orang tua yang seperti itu, didikan yang mungkin
sangat jauh dari teori-teori mendidik anak yang sangat banyak disuguhkan
akhir-akhir ini. Q pun merasainya hanya berjalan secara alami. Karena Q pun
tidak pernah melihat keduanya asyik masyuk membuka lembaran-lembaran buku
parenting. Namun, kami melewati masa-masa anak-anak tanpa berhadapan sejuta
larangan ini itu sebab kami pun tidak bertingkah yang aneh-aneh kami tetap
menajdi yang baik-baik saja.
Melewati masa sekolah dengan apa adanya, sehingga
kadang ane berpikir datar-datar aja ketika ada seorang teman yang memiliki
banyak aturan di rumahnya apalagi tidak mudah mendapat izin dari orang tua yang
saya anggap bukan untuk neko-neko. (tapi seperti itulah didikan orang tuanya
juga padanya) ga ada yang mesti di salahkan secara orang tua mereka
berpendidikan secara formal. Sedang orang tuaQ hanya berkutat dengan alam
setiap hari J
Namun, suatu ketika aQ terperanjat tatkala telah beranjak kuliah di Settis
Gutem kalo nggak salah memasuki semester 7 waktu itu, di atas lemari tempatQ
yang paling nyaman tuk duduk bersantai bahkan tak jarang menjadi incaran teman
dan adik2 yang lain tuk menikmatinya juga ketika aQ tidak berada di atas
lemari. Hehe... ya aQ asyik membuka lembaran-lembaran buku yang saya beli
ketika hendak jajan di Kafe, tapi ternyata sebelum jajan mata tertuju ke
etalase yang didalamnya telah tersusun rapi buku-buku jualan.
Akhirnya salah
satu buku menarik perhatianQ aQ pun mengambil dan mencocokkan harga dengan uang
yang saya pegang, Alhamdulillah cukup untuk membelinya keinginan untuk
menikmati jajanan yang sudah terbayang sebelumnya di tepis sesaat dulu. Nelen iler
dech, hhmmmm tapi nggak juga sech :-P.
Buku itupun menjadi milikQ judulnya “Prophetic
Parenting; Cara Nabi saw Mendidik Anak”.
Awalnya saya pun menjajaki daftar isinya, sudah menjadi kebiasaan ketika
ingin membaca buku memilih Bab atau Subbab yang menarik perhatian bagiQ. Ketika
menemukan tema yang beberapa ada kesamaan yang telah dilakukan orang tua
untukku (Q bahkan beranggapan bahwa cara yang orang tua lakukan menjadi hal
yang tidak lazim pada orang tua yang lain dalam mendidik). Tema yang menarik
perhatian saya waktu itu mengenai, memberikan hadiah serta bagaimana memberi
hukuman2 kepada anak-anaknya jika terdapat kesalahan..
Akhirnya saya pun
melahapnya sampe tuntas. Membacanya seakan sambil menggambarkan kembali apa
yang pernah dilakukan orang tua kepadaQ. Setelah itu saya pun bergumam bahwa
Ayah bukanlah sosok yang biasa-biasa saja dalam mendidik kami, sebab Q hanya
bisa membaca tuntunan mendidik itu tatkala sudah kuliah. Q pun mengambil kesimpulan
sederhana bahwa dalam mendidik ala Nabi saw tidak mesti meraih sedereta ijaZah,
atau telah melewati masa pendidikan formal di bangku sekolah. Namun, seorang “Petani
Tulen Ayah kami” kebanggan kami pun mampu melakukannya. Meskipun sampai
sekarang saya belum menanyakan langsung kepada beliau dari mana mereka
mempelajarinya.
Saat ini raga Qt telah terpisah jauh, hanya melalui gelombang suaralah yang
membuat kita saling mengungkap kerinduan. Ini adalah salah satu pilihanQ
menjalani kehidupan seperti ini dan terima kasih tidak mempersulit jalanQ. Meskipun
masih ada bayang-bayang untuk perizinan pada hal yang lebih sakral akan
kedepannya nanti. Namun, saya berharap kelembutanmu tetap terpancarkan darimu
meskipun engkau sedikit berseberangan paham terhadap apa yang saya inginkan
nantinya.
Namun, Allah lah yang menggenggam hatimu sebab ini adalah kebaikan
penuh yang kan ku jalani. Satu harapQ semoga kata “Jangan dan tidak boleh” tetap
tidak berlaku jika memang ada nilai kebaikan untukQ. Karena salah satu
pertimbangan bahwa dengan tetap berada dalam pilihan ini maka akan membantuQ
tuk menjadi Sholehah untuk Kalian dzikir-dzikir yang tak pernah usang oleh
lisanQ #Penuh Harap pake binggiiiitzzzz
Q Cinta, Sayang, Rindu
& Bangga Kepadamu
Tetesan Keringatmu yg
tak terbilang telah menyatu ke dalam tanah.
Langkahmu di pagi hari
menyiratkan tanggungjawab penuh kepada kami keluarga kecilmu.
Helaian rambutmu yang telah
memutih bertanda dirimu telah banyak memberikan makna hidup kepada kami.
Kami pun bangga dan
penuh kesyukuran telah memilikimu.
Semoga kami anak2mu
menjadi Sholeh/ah untukmu.
Hanya itu yang mampu
kami upayakan, sebab harta kami tak punya.
Kami hanya berusaha
untuk menjadi inventaris yang bermanfaat buat kalian di akhirat nanti.
*Ayah_IbuQ*
Berada jauh darimu bukan
berarti sepenuhnya meninggalkanmu...
Namun Q hanya berusaha
meninggalkan kesalahan2 sikap yang bakal terjadi jika raga ini tetap bersamamu
yang sangat kurasai...
Segala kekhilafan yang
secara dzahir akan terkikis jika fisik ini tidak berada di bawah atap yang sama...
Tapi jiwa ini seiring
dengan lafadz2 doa selalu ada untukmu...
Maafkan daku yang tidak
memiliki inventaris berupa materi untuk kuberikan padamu...
Ya, Aq hanya ingin
mnjadi sholehah untukmu ... "salah satu inventaris dunia akhirat yg telah
di janjikan Rasulullah saw bagimu yg bergelar:
*Ayah_IbuQ*
#BerharapSholehah





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Baik Memberikan Pengaruh Yang Baik