Buku Broken Crucifix, Detik-detik hancurnya
tentara Salib ini merupakan kelanjutan
dari beberapa buku yang telah dituliskan oleh Dr. Ir. Ali Muhammad
Ash-Shalaby, yang mengupas tentang sejarah keagungan Nabi Muhammad Saw dan para
khilafah rasyidah yang berisi berbagai fakta beserta analisis peristiwa
yang merekam perjalanan kehidupan serta liku-liku perjuangannya.
Adapun buku Broken Crucifix ini, merupakan
bagian dari rekaman sejarah “Imperium Saljuk serta kegemilangan kaderisasi
generasi Islam untuk menghadapi tipu daya kaum Bathiniyyah dan perang salib.”
Judul asli dari buku ini adalah Da’watu al-Imam al-Ghazali fi at-Tajdiid wa
al-Islaah (Dakwah Imam Al-Ghazali dalam Pembaharuan dan Perbaikan).
Rekaman sejarah ini sangat penting sebagai satu kesatuan terpadu dalam sejarah
ummat kita yang bersentuhan langsung dengan Perang Salib.
Hal ini, penulis telah menerangkannya dalam
beberapa halaman yang mengetengahkan potret berdirinya beberapa madrasah
Nizhamiah. Kemudian tujuan pengajaran yang hendak dicapai beserta peran penting
Nizhamul Mulk dalam merealisasikan target-targetnya. Seperti, pemilihan
kelayakan tempat, para pengajar, target metode pengajaran, pemberian subsidi,
penyusuan struktur tenaga pengajar, menentukan guru serta kelas yang akan
diajarnya. Selain itu, sebagai pembangunan citra positif madrasah-madrasah
tersebut dalam dunia Islam.
Seiring bergulirnya waktu, madrasah-madrasah
tersebut telah menelurkan ‘ulam berafiliasi sunni dan bermadzhab Syafi’i.
Bahkan pemerintahan Saljuk memberikan kesempatan magang siswanya sebagai
pegawai pemerintah, khususnya dalam biadang pengadilan, keuangan dan fatwa yang
merupakan pekerjaan urgen dalam negara saat itu. Dengan kapasitas tersebut
tidaklah mengherankan, banyak dari alumni madrasah itu tersebar ke seantero
dunia Islam hingga mereka mampu mengikis cengkraman aliran Bathiniyyah
di Mesir, serta menjangkau seluruh wilayah Afrika Utara dan menancapkan ajaran
Sunni di sana.
Pada saat yang sama, Imam al-Ghazali merupakan
seorang tokoh paling gigih memerangi pengaruh ajaran Syiah, bathiniyyah, dan
Ismailiyyah. Madrasah Nizhamiah dengan segenap potensi yang dimilikinya baik
dari misi risalahnya, para tokohnya beserta ulamanya telah mengembangkan
dakwahnya secara imajiner dan estafet. Penegmbangan dakwah ini kemudian
dilanjutkan oleh Nuruddin Zanki serta keluarga Ayyubi dengan berbagai perbaikan
dengan memperbanyak bangunan madrasah Nizhamiah di beberapa daerah yang
merupakan basis Bathiniyyah dan Rafidhah. Tujuannya, mengokohkan ajaran Islam
yang benar, seperti daerah Syam, mesir dan lainnya.
Hal ini yang menjadi fokus dakwah madrasah
nizhamiah adalah membekali ummat dengan akidah yang benar, pemikiran yang
kritis, keilmuan yang mapan serta pola pendidikan yang benar hingga dapat
melahirkan perwira-perwira perang di era Zanky. Bahkan pengaruh dakwahnya, baik
dari segi akidah maupun pemikiran sampai pada imperium Ayyubiah, Mamalik hingga
hari ini.
Dalam buku ini telah dituliskan biografi
mengenai Imam al-Ghazali, salah seorang guru besar di madrasah Nizhamiah.
Selain itu, juga menguraikan ketekunannya dalam menuntut ilmu, kesungguhannya
belajar pada Imam al-Haramain, pengangkatannya sebagai guru di madrasah
Nizhamiah baghdad, kejeniausan otak serta kemasyhurannya. Dilanjutkan pada
perubahan perjalanan hidupnya dan kembalinya pada dunia pengajaran. Serta
mengupas rangkaian karyanya, sikap serta pendiriannya terhadap Syiah,
Bathiniyyah, filsafat, ilmu kalam dan tasawuf, pola terapi melakukan ishlah
beserta karakteristiknya dan juga cara mendiagnosis penyakit yang timbul di
tengah-tengah masyarakat.
Bidang gerakan ishlah yang dipelopori
al-Ghazali, peletakan metode belajar mengajar terbaru, membangun pondasi akidah
ummat Islam, menegakkan kembali pesan-pesan amar makruf nahi munkar. Juga sepak
terjang dia mengkritik penguasa yang
dzalim, menyerukan tentang keadilan serta memerangi sekte-sekte pemikiran yang
menyimpang. Di samping itu, memaparkan perang al-Ghazali dalam memperbaiki
pemahaman dalam perihal nalar, sebagaimana batas peranan akal, menjauhi taklid,
dakwah kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, berpegang teguh pada manhaj salaf sikap
serta pendiriannya tentang Perang Salib.
Perang Salib yang biasa disebut olehpara
sejarawan Muslim dengan nama al-Hamlaat ash-Shalibiyyah (Serangan
Pasukan Salib) merupakan catatan kelam yang menggetirkan, sekaligus sebuah
malapetaka dalam sejarah kehidupan kaum muslimin. Tidak hanya lebih 60.000 kaum
muslimin dibunuh secara sadis. Tragedi perang Salib sekaligus menggambarkan
kebrutalan Barat-Kristen atas dunia Islam. Selama perang Salib, pertarungan
antara kaum muslimin dan kristen atau antara Timur dan Barat terlihat dengan
jelas. Ironoisnya tiga aliran sesat berkolaborasi dengan tentara salib Kristen
memusuhi ummat Islam demi keuntungan dunia. Di tengah puncak kegetiran ini,
sekelompk ulam tergabung dalam lembaga pendidikan yang diberi nama Nizhamiah
yang telah diutarakan di atas.
Salah satu tokoh sentral yang memilki andil
besar bagi perbaikan kurikulum di madrasah Nizhamiah adalah Imam al-Ghazali.
Melalui sentuhan tangannya, Hujjatul Islam Imam al-Ghazali berhasil menggeser
peran dominan sekte-sekte menyimpang. Setelah paham sesat tergeser dan
tergusur, perlahan kaum muslimin memilki pemahaman akidah yang benar, pemikiran
yang kritis, keilmuan yang mapan serta pola pendidikan yang benar, hingga
lahirlah perwira perang seperti Nuruddin Zanki hingga Shalahuddin al-Ayyubi,
satu tokoh panglima Muslim legendaris yang disegani Barat, dalam perang Salib.
Al-Ghazali selalu menekankan pentingnya
perbaikan moral kaum muslimin sebelum melakukan jihad. Sebab, menurutnya,
melakukan jihad melawan Pasukan Salib akan hampa jika tidak didahului dengan
jihad melawan hawa nafsu. Perjuangan melawan hawa nafsu adalah prasyarat mutlak
sebelum melakukan perang melawan Pasukan
salib. Caranya, dengan mengajarkan keilmuan yang benar yang akan mengantarkan
pemiliknya kepada keyakinan, kecintaan pada ibadah, zuhud dan jihad. Ilmu yang
rusak akan menghasilkan ilmuwan dan manusia yang rusak, yang cinta dunia dan
pasti enggan berjihad di jalan Allah. Oleh sebab itu, al-Ghazali melakukan
penyembuhan secara mendasar. Sebab, menurutnya sumber dari segala sumber
kebaikan dan kerusakan adalah hati/aqal.
No.
|
Aspek
|
Uraian
|
1.
|
Nama Mahasiswa
|
Sri Hartati
|
2.
|
NIM
|
O000130 010
|
3.
|
Judul Buku
|
Judul Asli: Da’watu al-Imam al-Ghazali fi at-Tajdiid wa
al-Islaah
Judul Terjemahan: Broken Crucifix, Detik-Detik Hancurnya Tentara Salib
|
4.
|
Penerbit
|
Lentera Optima Pustaka
|
5.
|
Edisi
|
Pertama
|
6.
|
Penulis & Penerjemah
|
Penulis: Dr. Ir. Ali
Muhammad Ash-Shalaby
Penerjemah: Imam Muhtar MA
|
7.
|
ISBN
|
978-602-97030-0-9
|
8.
|
Pokok Masalah
|
Mengungkap peran penting Imam al-Ghazali dalam membangkitkan semangat
juang ummat Islam melawan Tentara Salib
|
9.
|
Maksud dan Tujuan
|
Merupakan sumbangsih yang mempunayi nilai tersendiri dengat tujuan untuk
menyuguhkan catatan penting tentang kiprah Imam al-Ghazali dalam gerakan
pembaharuan serta perbaikan kondisi tubuh ummat Islam.
|
10.
|
Metode dan Pendekatan
|
Pendekatan
Sejarah Ilmiah sosio-religius
|
11.
|
Kerangka Teori yang Dipakai
|
teori yang dipakai yaitu menerangkan secara sistematis suatu fenomena sosial-religius
dengan cara menentukan hubungan social-religius
antara konsep. Kerangka teori berasal dari kajian pustaka, berupa
teori-konsep yang digunakan.
|
12.
|
Pokok-pokok Pemecahan Masalah
|
Pada masa hidupnya, al-Ghazali telah melakukan berbagai usaha yang
sungguh-sungguh untuk mengajarkan ilmu yang benar, membangun pondasi akidah
ummat Islam, menegakkan kembali pesan-pesan amar makruf nahi munkar. Juga
sepak terjang dia mengkritik penguasa
yang dzalim, menyerukan tentang keadilan serta memerangi sekte-sekte
pemikiran yang menyimpang.
Dari upaya ulama Imam al-Ghazali ini, kemudian lahir generasi seperti
Nuruddin Mahmud Zanki yang dikenal sebagai penggelora pertama semangat Perang
Salib. Kemudian dilanjutkan oleh Shalahuddin al-Ayyubi yang pada tahun 1187
berhasil memimpin pembebasan kota suci Yerusalem dari cengkraman Pasukan
Salib.
|
13.
|
Kesimpulan
|
Kisah dalam buku ini
berawal pada tahun 455 H, yaitu saat pengangkatan Nizhamul Mulk (Hasan bin
Ali bin Ishaq at-Thusy) sebagai Menteri oleh Sultan Alib Arsalan, sekitar 120
tahun sebelum pembebasan Yerusalem dari cengkraman Pasukan Salib. Buku ini mengupas sepak terjang Nizhamul Mulk
dan Imam Al-Ghazali dalam membersihkan berbagai paham dan aliran menyimpang
yang berkembang dalam tubuh ummat, serta membangun basis keilmuan yang
berlandaskan sumber-sumber asli ajaran Islam. Shalahuddin Al-Ayyubi pun
nantinya adalah salah satu ‘produk’ dari rekayasa ini.
|
14.
|
Saran-saran Kepada penelitian Lanjutan
|
Saran pereview kepada penelitian selanjutnya yaitu pentingnya menelisik akar permasalahan ummat (tipping
point, dalam bahasa Malcolm Gladwell) dan panjangnya perjalanan
untuk memperbaiki dan membangun generasi. Untuk lebih melengkapi kiprah
panglima-panglima perang dalam melawan Pasukan Salib secara khusus.
|
15.
|
Catatan (Kritik dan
Komentar)
Pereview
|
Judul terjemahan yang diberikan oleh penerbit memang agak misleading,
karena buku ini tidak membahas mengenai kisah Perang Salib, selain beberapa
halaman terakhir yang membahas kiprah Nuruddin Zanki dan Shalahuddin
Al-Ayyubi secara umum. Judul asli dari buku ini mungkin bisa lebih tepat
menjelaskan isi dari buku ini, yaitu mengenai “Dakwah Imam Al-Ghazali dalam Pembaharuan dan
Perbaikan.“
|
16.
|
Lampiran
|
Narasi Review
|
Surakarta, 22 Januari 2013
Penulis/Pereview,
Sri Hartati
NIM. O000130 010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Baik Memberikan Pengaruh Yang Baik