-->

Merajut Kata...


  • Home
  • About Me
  • Share
  • Bis_QaL
  • Uswatunaa
  • Tarbiyah
  • Hidayatullah
  • Lir ILir

Uraian Ujian Tengah Semester




Disusun untuk memenuhi tugas ujian mid semester: Pemikiran Islam Klasik
Dosen Pengampu: Dr. Syamsul Hidayat



Disusun oleh:
Sri Hartati (O 000 130 010)





PROGRAM PASCASARJANA
JURUSAN MAGISTER PEMIKIRAN ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013

Uraian UTS Pemikiran Islam Klasik
Islam adalah Dinullah yang lahir dari sebab turunnya wahyu ilahi kepada Nabi Muhammad saw., kemudian disebarkan dan dipahami oleh akal dan intuisi manusia. Hakekat pemikiran Islam tidak terlepas dari prinsip-prinsip dasar Islam yang telah sempurna dengan struktur konseptual yang kokoh dan universal sehingga menjadi titik tolak perkembangan peradaban Islam. Para orientalis pun berminat dalam perkembangan studi pemikiran dan peradaban Islam yang pada akhirnya melahirkan berbagai cakupan pemikiran Islam dalam berbagai bidang serta sisi positif dan negatifnya dalam tiap periodisasi.
Melalui konsep pandangan hidup Islam dengan pendekatan integral yang merujuk kepada tradisi intelektual Islam secara kritis dan kreatif akan menunjukkan bahwa pemikiran Islam bersifat konseptual, integral dan memproyeksikan Islamic worldview yang dinamis, teratur dan rasional yang dipancarkan oleh konsep Islam sebagai Din. Berpikir adalah salah satu tiang agama Islam dan dasar dibangunnya peradaban Islam. Pemikiran Islam adalah upaya menilai fakta dari sudut pandang Islam. Selain itu pemikiran Islam merupakan produk dari proses berpikir umat Islam yang berparadigma al-Qur’an dan as-Sunnah.
Pemikiran Islam memiliki beberapa karakteristik yaitu: (Abdullah: 2002, 11)
a.       Bersifat Komprehensif (Syumuuliyah)
Pemikiran Islam mengatur semua aspek kehidupan manusia, seperti politik, social kemasyarakatan, perekonomian, kebudayaan dan akhlak. Karena Islam hadir dengan membawa aturan yang berkaitan antara hubungan manusia dengan Tuhannya dalam perkara akidah dan  ibadah, manusia dengan dirinya sendiri tentang hokum-hukum makanan, pakaian, dan akhlak, sedangkan yang berkaitan dengan orang lain berupa perkara mu’amalah, uquubat dan politik luar negeri. Jadi semua status hokum telah termaktub dalam Islam. Firman Allah Swt “Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (yaitu al-Qur’an) sebagai penjelas segala sesuatu” (al-Qur’an Surah an-Nahl [16] ayat 89)
b.      Bersifat Luas
Keluasan pemikiran Islam memungkinkan para ulama untuk melakukan istinbath (menggali) hukum-hukum syar’I dari nash-nash syariat tentang perkara-perkara yang baru. Dalil-dalil syari’at hadir dalam bentuk gaya bahasa yang mampu mencakup perkara apa saja hingga hari kiamat.
Peradaban Islam dikenal dengan ciri toleran ajaran dan risalahnya yang universal menyatukan secara sempurna seluruh asal muasal, warna kulit dan bahasa. Pengaruhnya menyeluruh pada perbedaan tempat dan kawasan. Ia merupakan suatu peradaban yang menaungi seluruh manusia, memberikan kesenangan berupa hak kepada siapa saja yang sampai kepadanya. (As Sirjani, 2011:132)
c.       Bersifat Praktis (‘amaliy)
Hukum-hukum Islam hadir untuk diterapkan dan dilaksanakan di tengah-tengah kehidupan. Manusia tidk akan dibebani melebihi apa yang dia sanggupi. Pemikiran Islam telah diterapkan di tengah-tengah manusia selama 13 abad, dalam naungan negara besar di dunia, Daulah Khilafah Islamiyah. Pemikiran-pemikiran Islam yang dituangkan dalam hukum syariah yang sudah pernah diterapkan adalah: hukum syariah tentang pemerintahan, hukum syariah tentang ekonomi, hukum syariah tentang hubungan sosial atau aturan pergaulan pria wanita, hukum-hukum syariah tentang kebijakan pendidikan, hukum-hukum syariah tentang politik luar negeri.
d.      Bersifat Manusiawi
Islam menyeru kepada manusia dalam kapasitasnya sebagai manusia, tanpa melihat lagi ras atau warna kulitnya. Orang-orang selain orang Arab pun telah beriman pada agama ini, seperti Persia, Romawi, Asia Tengah, India, Indonesia dan sebagainya. Demikianlah, Islam telah mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya hidayah, dari keterpurukan menuju kebangkitan.
Konsepsi Pemikiran Islam adalah upaya menggali dan merumuskan kaidah-kaidah yang harus dibangun dalam Pengembangan Pemikiran Islam, sehingga wacana pemikiran Islam tidak terjebak kepada liberalisasi dan sekularisasi pemikiran Islam, tetapi juga tidak terjebak dalam kejumudan dan kemandekan. Wacana pemikiran Islam harus kuat mengakar kepada sumber-sumber ajaran Islam, dan integratif dengan prinsip-prinsip keimanan, pengamalan dan dakwah Islam, namun tetap aktual dan transformatif .Konsepsi dan sejarah perkembangan pemikiran Islam didasarkan pada prinsip-prinsip:
a.       Taîwêr, yakni deskripsi permasalahan dan realitas pemikiran Islam dengan pandangan hidup Islam yang bersumber Al-Quran dan Sunnah serta khazanah intelektual Islam, baik salaf maupun khalaf.
b.      Ta'îêl, melakukan analisis-kritis dengan merujuk kepada sumber-sumber orisinalitas Islam.
c.       Tarsyid, mempertautkan antara al-aîélah(orisinalitas) dengan al-muñéîarah (realitas kekinian) dengan komitmen terhadap nilai-nilai dan pandangan hidup Islam sebagai kerangka dasarnya. melakukan pengembangan atas perkembangan pemikiran dan peradaban Islam sebagai peradaban alternatif.
Pemikiran Islam berdasarkan karakteristik diatas  maka ruang lingkupnya sangat komplek dan cakupannya seluas kehidupan itu sendiri. Sebab Islam adalah agama yang mengajarkan prinsip-prinsip yang bersifat menyeluruh. Secara konseptual merupakan gambaran integral bagaimana keimanan atau keyakinan dalam Islam yang rasional dan berdimensi ilmu itu memancarkan ilmu pengetahuan dan mengejewantah dalam bentuk amal-amal. (Fahmy, 2011: 11)
Sejarah kebangkitan  dan perkembangan Barat menjadi kebudayaan  yang kini menguasai dunia adalah sangat kompleks namun sebab kebangkitannyan yaitu karena telah bersentuhan dengan peradaban Islam. Dalam perkembangan studi pemikiran dan peradaban Islam ini pun sangat diminati oleh para orientalis. Namun pemikiran dan kehidupan para orientalis tidak merujuk pada agama sehingga menjadi kosong dari yang sakral. Sekularisme menjadi konsep filsafat kehidupannya yag membentuk moral dan nilai kehidupanya berdasarkan pikiran manusia itu sendiri. Melalui dominasi dan hegemoninya, Barat berusaha mengglobalkan konsep-konsep keilmuan dalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang pemikiran Islam.
Tiga faktor penting yag menjadi latar belakang, mengapa barat memilih jalan hidup sekular dan liberal kemudian mengglobalkan pandangan hidup dan nilai-nilainya ke seluruh dunia, termasuk dunia Islam. Pertama, trauma sejarah, khususnya yang berhubungan dengan dominasi agama (Kristen) di zaman pertengahan. Kedua, problem teks Bible berkaitan dengan otentisistas teks Bible dan makna yang terkandung di dalamnya. Ketiga, problem teologis Kristen. (Husaini, 2007: 3)
Orientalis ada tiga jenis yaitu:  1) Ilmuwan murni, sekadar orang bayaran yang mengkaji timur. 2) Orientalis yang bergerak untuk mengokohkan penjajahan-orientalis imperialis, seperti Snouck Hurgronye. 3) Orientalis untuk tujuan melancarkan misi kristen. Para orientalis mengarahkan pemikiran kaum Muslimin untuk mengikuti kemajuan bangsa Eropa yang Kristen dan berasal dari bangsa Aria.
Konsep yang mendasari tujuan orientasi pemikiran orientalis  yaitu: (Al-Bahiy, 1986: xiii)
a.       Munculnya beberapa pemikir di kalangan umat Islam dengan pergerakan-pergerakan permulaan. Tujuan untuk melegitimasikan kekuasaan Imperialis terhadap umat Islam dengan dalih agama Islam. Umat manusia digiring untuk mereguk kenikmatan dunia, dengan tujuan melupakan Tuhan. Keraguan dan kerelatifan dijadikan sebagai dasar nilai atau sebagai paradigma bukan keyakinan.
b.      Munculnya beberapa sarjana Barat yang mengungkit-ngungkit masalah perbedaan madzhab, membesarkan pertentangan antar golongan dan bangsa Muslim, baik dari segi kesukuan, geografis maupun sistem pemerintahan. Mereka juga menguraikan prinsip-prinsip Islam lain dari tujuan sebenarnya. Dibumbui dengan pujian terhadap nilai-nilai Kristen, kebudayaan Barat, sistem politik dan nilai-nilai kepribadian bangsa-bangsa Barat. Serta berusaha memperbaharui pemahaman terhadap Islam untuk menyelaraskan antara Islam dengan perkembangan zaman yang selalu berubah-ubah.
Cakupan pemikiran Islam telah tebagi dari berbagai aspek yang berdasar dari pusat-pusat studi Islam di Barat seperti aspek Teologi, Filsafat, Tasawuf dan Hukum Islam. Sebelum mengungkapkan pendapat pribadi maka hal yang perlu diketahui terlebih dahulu adanya perkara yang melatarbelakangi kajian orientalis yaitu pertama, untuk menciptakan konflik dan melestarikan perpecahan di kalangan umat Islam, agar mudah untuk dikuasai, berdasarkan prinsip divide et impera. Kedua, motivasi lain yang melatarbelakangi studi orientalis-misionaris ialah untuk menghancurkan rasa percaya diri (self-confidence) kaum Muslim. (Syamsuddin, 2008: 48-52)
Pusat-pusat studi Islam di Barat membagi cakupan pemikiran Islam ke dalam empat aspek di atas karena keempat aspek tersebut merupakan aspek dasar dalam pemikiran Islam. Sehingga orientalis muncul dengan kedok sebagai para ahli untuk mengadakan riset dan survey tentang sesuatu bidang ilmu pengetahuan dengan maksud tertentu untuk memasukkan berbaga macam fitnah, menebarkan isu-isu; melampiaskan segala isi hatinya dan kedengkiannya terhadap Islam, dan menulisi Islam dengan pena yang beracun. Para Orientalis terang-terangan menolak sistem ilmu Islam yang asli. Ini berakibat menyimpangnya ummat dari hakekat kebenaran, dan meninggalkan hukum Islam. Orientalis tidak mungkin membiarkan Islam terlaksana di tengah-tengah masyarakat.
Pembagian ini pun merupakan langkah mereka untuk memudarkan Islam yang komprehensif dan bersifat final dari umat Islam terutama generasi penerus. Sehingga menjadikan kajian kritis dan menggunakan analisis yang bebas sebagaimana berlaku dalam tradisi ilmiah tanpa beban teologis atas ajaran dan fenomena keagamaan yang dikajinya. Tujuan Orientalisme ini ialah: "memakai dan mempergunakan penelitian masalah ketimuran sebagai langkah untuk menyerang/memerangi Islam, menimbulkan rasa keragu-raguan terhadap sumber-sumber Islam agar ummat Islam berpaling dari agamanya, agar ummat Islam jangan sampai pada kemuliaan dan kekuatannya, tetapi hanya selalu mengekor kepada Barat, dan selalu taqlid masa bodoh dan apatis, melihat segala macam jenis kejahatan dan kemerosotan di negeri mereka. Studi mereka berawal dari keraguan dan berkhir pada keraguan pula, serta meragukan kebenaran dan membenarkan kebenaran.
Sejarah Islam sekarang telah berjalan dekat empat belas abad lamanya. Sebagaimana halnya dengan perkembangan pemikiran Islam terbagi dalam periode klassik, peride pertengahan dan periode modern yang masing-masing mengandung nilai positif dan negatif.
a.       Periode Klasik (650-1250)
1.      Masa Kemajuan Islam I (650-1000)
Masa ini merupakan masa ekspansi, integrasi dan keemasan islam. Dalam hal ekspansi, sebelum Nabi Muhammad saw wafat di tahun 632 M, seluruh semenanjung Arabia telah tunduk ke bawah kekuasaan Islam. Ekspansi keluar daerah Arabia dimulai di zaman khalifah pertama yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq. Serta pemikiran politik pun muncul setelah wafatnya Rasulullah saw., seperti suksesi kepemimpinan, cara memilih pemimpin dan syarat pemimpin serta pemimpin yang bergelar khalifah.
Perkembangan pada masa Khulafaurrasyidin, lahirnya pemikiran teologi tentang riddah yang harus diperangi dan pemikiran politik tentang demokrasi/musyawarah dengan model penunjukkan pengganti beliau pada masa Abu Bakar ash Shiddiq (632-634). Masa Umar ibn Khaththab (634-644), pemikiran dakwah diperluas, pemikiran fisafat hukum, pemikiran ekonmi dengan mendirikan Baitul Mal dalam bidang politik memilih penggantinya dengan cara formatur. Masa Usman bin Affan(644-655) terjadinya konflik karena kaum opurtunis yang tidak mau menerima kebijakan politiknya serta adanya pembangunan infrastruktur. Sedangkan pada masa Ali bin Abi Thalib (655-661) merestrukturisasi jabatan yang dipegang keluarga Usman serta terjadinya perang siffin dan jamal.
Pada masa dinasti Umayyah sistem pemerintahan tidak lagi berbentuk khilafah, pembangunan masjid-masjid pertama di luar semenanjung Arabia. Selain itu muncul gerakan politik yang menentang pemerintah, gerakan anarkhis dan munculnua aliran-aliran teologi Islam. Kekuasaan dan kejayaan mencapai puncak pada zaman al-Walid I hingga menurun dan dipatahkan oleh bani Abbasiyyah pada tahun 750. Pada masa dinasti Abbasiyyah perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam bidang kedokteran, farmasi dan kesenian. Didirikan Baitul Hikmah di Baghdad, muncul filosof-filosof besar (al Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd), muncul periwayat hadits, mufassir, madzahibul arba’ah dan tranliterasi Yunani ke Arab.
2.      Masa Disintegrasi (1000-1250)
Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya telah dimulai pada akhir zaman Bani Umayyah, tetapi memuncak di zaman bani Abbasiyyah. Daerah-daerah yang jauh letaknya dari pusat pemerintahan di Damaskus dan kemudian di Baghdad, melepaskan diri dari kekuasaan khalifah di pusat dan tertimbunlah  dinasti-dinasti kecil. Serta meluasnya wilayah sehingga komunikasi tidak berjalan. (Nasution, 1984: 75)
b.      Periode Pertengahan (1250-1800)
Peride ini merupakan awal kemunduran umat Islam, terjadinya abad kegelapan yang di sebabkan oleh: konflik keagamaan, karena perbedaan doktrin antara aliran-aliran teologi Islam, persaingan antar bangsa, terutama Persia dan Turki dalam pemerintahan Abbasiyyah, perebutan kekuasaan internal istana, lemahnya kekuatan pemerintahan pusat, kemorosotan ekonomi dan ilmu pengetahuan diambil alih oleh Barat.
c.       Periode Modern-kontemporer (1800-sekarang)
Corak perkembangan pada periode Modern ini adalah negara-negara Islam menjadi sasaran utama kekuasaan Imperialisme, munculnya tokoh-tokoh pembaharu, munculnya kesadaran bagi umat Islam untuk meraih kemerdekaan serta merebut kembali kejayaan dalam bidang Iptek dan sekarang dalam bidang ekonomi dan politik.
Dengan melihat permasalahan-permasalahn yang timbul dalam setiap periode yang mencakup dari sisi positif dan negatifnya maka Islam perlu meneguhkan identitasnya sebagai peradaban yang bermartabat menjadi rahmat bagi dunia yang kaya dengan konsep dan sistem kehidupan yang teratur selama berabad-abad lamanya,bersikap toleran dan mengayomi peradaban lain. Proyek pembangunan peradaban dalam sisi pemikiran maka diperlukan pembahasan  dengan mengkaji bagaimana sejarah bangunnya peradaban Islam sehingga mengetahui bentuk bangunan yang pernah wujud dalam sejarah, baik dalam bentuk warisan keilmuan maupun bangunan konsepnya.
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Baik Memberikan Pengaruh Yang Baik

Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Arsip Blog

  • ▼  2015 (1)
    • ▼  Jan (1)
      • Secercah Kisah Bersamanya...
  • ►  2014 (29)
    • ►  Des (1)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Jun (2)
    • ►  Apr (6)
    • ►  Mar (1)
    • ►  Feb (6)
    • ►  Jan (12)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Des (9)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Okt (2)
    • ►  Apr (3)
    • ►  Mar (1)
  • ►  2012 (1)
    • ►  Okt (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  Mar (2)

Members

IQRO'...

  • About alGhumaishaa
  • Tanah Ogi Wanuakku...
  • Sulawesi Pa'rasanganta'
  • Pada'idi Pada'elo... Sipatuo Sipatokkong...
  • Menggurat Sejarah Tanah Air
  • Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS)
  • Kajian Feminisme
  • Islamic Thought and Civilization
  • Situs Hidayatullah
  • Miniatur Kampus Peradaban Hidayatullah
Sahlah al_Ghumaishaa'
Lihat profil lengkapku

Label

About Me Bis_QaL Cat. Ustadz Hidayatullah Khauf Lir ILir Merangkai Kata Mengikuti Kata Hati Opini Rindu Share Tarbiyah Uswatunaa

Laman

  • Home
  • Review Buku Broken Crucifix
  • Take Home...
  • Dakwah Pengembangan Masyarakat
  • Uraian Ujian Tengah Semester
  • Pergulatan Filosofis Ibn Sina, Imam al-Ghazali dan Ibn Rusyd



Tema Jendela Gambar. Diberdayakan oleh Blogger.