-->

Merajut Kata...


  • Home
  • About Me
  • Share
  • Bis_QaL
  • Uswatunaa
  • Tarbiyah
  • Hidayatullah
  • Lir ILir

Jumat, 26 Oktober 2012

Lembaga Pengkaderan...

STIS sebagai Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan antara Harapan & Tantangan
Oleh: Ust. Nasirul Haq

STIS salah satu sekolah tinggi yang memiliki keistimewaan tersendiri dari sekolah tinggi yang ada di Hidayatullah karena terletak di lingkungan yang kondusif yaitu di rahim pusat kepemimpinan Hidayatullah tepatnya di Gunung Tembak. Tempat mengawali titik perjuangan yang membara dari jiwa-jiwa para Assabikuna Awwal, karena perjuangan ini tidak terpatri hanya sesaat maka membutuhkan para pelanjut estafet perjuangan maka Hidayatullah dengan melalui  STIS ini memiliki harapan yang besar untuk mencetak kader yang berkualitas yang siap pakai di seluruh penjuru dunia.
Kader STIS yang tercetak di rahim kepemimpinan Hidayatullah  memiliki beban tanggung jawab atau amanah yang sangat besar karena memiliki nilai yang sangat mulia di mata warga Hidayatullah yang sudah tersebar dimana-mana. Sebagai seorang kader maka mulai dari sekarang harus menanamkan pada diri bahwasanya kita dipersiapkan sebagai penerus perjuangan. Karena usia muda adalah usia idealisme yang sudah menjadi usia sunnatullah sehingga semangat mahasiswa harus lebih aktif  dari para pendahulu yang sudah berusia tua. Namun satu hal yag harus digenggam para kader yaitu ketaatan karena memiliki nilai yang paling utama. 

Cerminan para kader yaitu Para Sahabat belia yang memiliki potensi perjuangan yang dahsyat diantaranya:
Ø  Abdullah bin Mas’ud adalah remaja yang termasuk urutan keenam beriman kapada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebelum Beliau memasuki rumah Arqam. Abdullah bin Mas’ud adalah orang Yang Pertama kali mengumandangkan Al-Quran dengan suara merdu. Suatu ketika pernah pula Ibnu Mas'ud menyebut-nyebut karunia Allah kepadanya, katanya: '"Tidak suatu pun dari al-Quran itu yang diturunkan, kecuali aku mengetahui mengenai peristiwa apa diturunkannya. Dan tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Kitab Allah daripadaku. Dan sekiranya aku tahu ada seseorang yang dapat dicapai dengan berkendaraan unta dan ia lebih tahu tentang Kitabullah daripadaku, pastilah aku akan menemuinya. Tetapi aku bukanlah yang terbaik di antaramu!"
Ø  Abdullah bin Abbas serupa dengan Ibnu Zubeir bahwa mereka sama-sama menemui Rasulullah dan bergaul dengannya selagi masih kecil, dan Rasulullah wafat sebelum Ibnu Abbas mencapai usia dewasa. Tetapi ia telah mendapat kerangka kepahlawanan dan prinsip-prinsip kehidupan dari Rasuluilah saw. yang mengutamakan dan mendidiknya serta mengajarinya hikmat yang murni. Dan dengan keteguhan iman dan kekuatan akhlaq serta melimpahnya ilmunya, Ibnu Abbas mencapai kedudukan tinggi di lingkungan tokoh-tokoh sekeliling Rasulullah saw, Ia adalah putera Abbas bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, paman Rasulullah saw. Digelari "habar" atau kyai atau lengkapnya "kyahi ummat", suatu gelar yang hanya dapat dicapainya karena otaknya yang cerdas, hatinya yang mulia dan pengetahuannya yang luas.
Ø  Abu Musa al-Asy’ari,  merupakan gabungan yang istimewa dari sifat-sifat utama! Ia adalah prajurit yang gagah berani dan pejuang yang tangguh bila berada di medan perang. Tetapi ia juga seorang pahlawan perdamaian, peramah dan tenang, keramahan dan ketenangannya mencapai batas maksimal . Seorang ahli hukum yang cerdas dan berfikiran sehat, yang mempu mengerahkan perhatian kepada kunci dan pokok persoalan, serta mencapai hasil gemilang dalam berfatwa dan mengambil keputusan, sampai ada yang mengatakan: "Qadhi atau hakim ummat ini ada empat orang, yaitu Umar, Ali, Abu Musa dan Zaid bin Tsabit ....". Di samping itu ia berkepribadian suci hingga orang yang menipunya di jalan Allah, pasti akan tertipu sendiri, tak ubahnya seperti senjata makan tuan. Abu Musa sangat bertanggung jawab terhadap tugasnya dan besar perhatiannya terhadap sesama manusia. Dan andainya kita ingin memilih suatu semboyan dari kenyataan hidupnya, maka semboyan itu akan berbunyi:" Yang penting ialah ikhlas, kemudian biarlah terjadi apa yang akan terjadi... !" 
Semangat para Sahabat dan Ulama bisa dijadikan cerminan bagi para kader ideologi Hidayatullah yang siap menyumbangkan pengorbanannya di laga perjuangan. Perjuangan yang diawali dari mengikuti sistem yang telah terpolakan di STIS memiliki azzam yang besar dalam belajar. Kobaran semangat yang berjiwa pemuda sudah menjadi sunnatullah karena para pemimpin umat atau para Nabi berusia sangat muda sehingga para mahasiswa harus mempersiapkan diri juga sebagai pemimpin umat masa depan.   
Hal yang harus dipersiapkan para penuntut ilmu, seperti apa yang telah diungkapankan Imam Asy-Syafi’I yaitu:
اخي لن تنال العلم الا بستة
سأنبك عن تفصيلها ببيان :
ذكاء
و حرص
و اجتهاد
و درهم
و صحبة أستاذ
و طول ازمان

Ø  ذكاء (Kecerdasan)
Potensi kecerdasan dimiliki oleh semua orang namun suatu hal yang harus diketehui bahwasanya Mujahadahlah yang akan membedakan potensi tersebut. Apabila potensi selalu di asah maka akan semakin berkualitas akan tetapi apabila tidak ada ikhtiar untuk mengembangkannya maka lambat laun akan pupus dan akan terjangkit virus Jahil Muroqqab.

Ø  حرص (Memiliki Ambisi/ Rakus)
Sebagai insan yang memiliki kerakusan terhadap ilmu maka akan tergambarkan bahwasanya tidak ada rasa puas terhadap ilmu yang telah dimiliki, dan tidak memilih-milih karena semua ilmu itu bermanfaat sekalipun ada ilmu yang lebih didalami untuk melahapnya. 

Ø  اجتهاد (Bersungguh-sungguh)
Hasil yang baik tercipta dari modal mujahadah, kesungguhan ini harus berenergi karena harus banting tulang untuk memperoleh apa yang diinginkan namun itu akan melahirkan kenikmatan. Siapa saja yang bergabung di STIS maka akan terorganisir karena memiliki orientasi menjadi pemimpin umat yang memiliki keterampilan dan berjiwa kekaderan. 
Mulai dari sekarang harus menanamkan tekad karena tidak ada kata tunda apabila hasilnya tidak maksimal maka itu adalah takdir. Apabila ada azzam maka semuanya akan terlahir kemudahan. Semakin banyak tantangan maka akan memberikan motivasi lebih, ini akan terlihat dari The Power Of Kepepet, yaitu apabila dalam situasi kalang maka akan mengeluarkan energi ekstra,

Ø  درهم (Harta)
harus disadari dalam perjuangan ini tidak hanya membutuhkan pengorbanan tenaga dan pikiran namun membutuhkan pengorbanan harta juga, seperti para Sahabat Abu Bakar as-Siddiq
yang mengorbankan seluruh hartanya, Umar bin Khattab yang mengorbankan separuh hartanya ini dilakukan demi memperjuangkan Islam.

Ø  صحبة أستاذ (Komunikasi dengan Ustadz)
Untuk mengetahui suatu ilmu maka membutuhkan guru yang akan mengajari. Harus ada mulazamah, rajin berkonsultasi kepada guru. Namun semuanya harus diawali dengan niat yang
ikhlas agar hasil yang didapatkan memiliki keberkahan. Belajar tidak memiliki tempat yang khusus namun ilmu itu tidak ditentukan oleh fasilitas, tapi barang siapa yang mendatangi ilmu maka akan
lebih mudah untuk memahaminya. Sebagai thalabul ‘ilmi maka harus menyatukan antara intelektual, spiritual dan mentalitas karena ketiganya tidak bias dipisahkan. Ilmu tidak akan bermanfaat secara
lahiriah apabila akhlak rusak, maka untuk mendapatkanya harus dimulai dari Tazkiyatun Nafs dan pengikisan Thago’. Sang Guru memiliki peranan penting terhadap muridnya, karena keberhasilan seorang murid terlahir dari didikan gurunya. Jujur memiliki peranan penting sebagaimana dalam suatu ungkapan:
“ Ajarkan kepada anakmu kejujuran maka kejujuran itulah yang akan mengajari anakmu !”

Ø  طول الزمان (Sepanjang Zaman)
Menuntut ilmu atau perjuangan tidak hanya dalam waktu yang singkat namun sampai titik darah penghabisan,yang harus menghilangkan sikap menduga-duga. Karena semuanya membutuhkan kesabaran, Allah melihat mujahadah apa yang telah diusahakan. Gambaran sikap yang tidak pernah menyerah sebelum mendapatkan hasil bisa menelaah sejarah ibunda Siti Hajar seorang wanita, istri dan ibu yang menampakkan eksistensi mujahadahnya sehingga hasil dari mujahadah mulia, huznudzan serta diiringi ketaqwaan terukir sepanjang zaman dalam kehidupan manusia, semuanya karena ikhtiar dengan waktu lama. Untuk menciptakan kader berkwalitas maka tidak terlepas dari lafadz-lafadz doa Orang Tua.
Resume, Jum’at, 26 Oktober 2012
Created By:   Sahlah al Ghumaisha (Alumni STIS Angkt. VII)
Diposting oleh Sahlah al_Ghumaishaa' di 06.43
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Hidayatullah, STIS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Baik Memberikan Pengaruh Yang Baik

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Arsip Blog

  • ►  2015 (1)
    • ►  Jan (1)
  • ►  2014 (29)
    • ►  Des (1)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Jun (2)
    • ►  Apr (6)
    • ►  Mar (1)
    • ►  Feb (6)
    • ►  Jan (12)
  • ►  2013 (16)
    • ►  Des (9)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Okt (2)
    • ►  Apr (3)
    • ►  Mar (1)
  • ▼  2012 (1)
    • ▼  Okt (1)
      • Lembaga Pengkaderan...
  • ►  2011 (2)
    • ►  Mar (2)

Members

IQRO'...

  • About alGhumaishaa
  • Tanah Ogi Wanuakku...
  • Sulawesi Pa'rasanganta'
  • Pada'idi Pada'elo... Sipatuo Sipatokkong...
  • Menggurat Sejarah Tanah Air
  • Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS)
  • Kajian Feminisme
  • Islamic Thought and Civilization
  • Situs Hidayatullah
  • Miniatur Kampus Peradaban Hidayatullah
Sahlah al_Ghumaishaa'
Lihat profil lengkapku

Label

About Me Bis_QaL Cat. Ustadz Hidayatullah Khauf Lir ILir Merangkai Kata Mengikuti Kata Hati Opini Rindu Share Tarbiyah Uswatunaa

Laman

  • Home
  • Review Buku Broken Crucifix
  • Take Home...
  • Dakwah Pengembangan Masyarakat
  • Uraian Ujian Tengah Semester
  • Pergulatan Filosofis Ibn Sina, Imam al-Ghazali dan Ibn Rusyd



Tema Jendela Gambar. Diberdayakan oleh Blogger.