STIS sebagai Lembaga
Pendidikan dan Pengkaderan antara Harapan & Tantangan
Oleh: Ust. Nasirul
Haq
STIS salah satu sekolah tinggi yang memiliki
keistimewaan tersendiri dari sekolah tinggi yang ada di Hidayatullah karena terletak
di lingkungan yang kondusif yaitu di rahim pusat kepemimpinan Hidayatullah
tepatnya di Gunung Tembak. Tempat mengawali titik perjuangan yang membara dari
jiwa-jiwa para Assabikuna Awwal, karena perjuangan ini tidak terpatri hanya
sesaat maka membutuhkan para pelanjut estafet perjuangan maka Hidayatullah
dengan melalui STIS ini memiliki harapan
yang besar untuk mencetak kader yang berkualitas yang siap pakai di seluruh
penjuru dunia.
Kader STIS yang tercetak di rahim kepemimpinan
Hidayatullah memiliki beban tanggung
jawab atau amanah yang sangat besar karena memiliki nilai yang sangat mulia di
mata warga Hidayatullah yang sudah tersebar dimana-mana. Sebagai seorang kader
maka mulai dari sekarang harus menanamkan pada diri bahwasanya kita dipersiapkan
sebagai penerus perjuangan. Karena usia muda adalah usia idealisme yang sudah
menjadi usia sunnatullah sehingga semangat mahasiswa harus lebih aktif dari para pendahulu yang sudah berusia tua.
Namun satu hal yag harus digenggam para kader yaitu ketaatan karena memiliki
nilai yang paling utama.
Cerminan para kader yaitu Para Sahabat belia yang
memiliki potensi perjuangan yang dahsyat diantaranya:
Ø Abdullah
bin Mas’ud adalah remaja yang termasuk urutan keenam beriman kapada Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam sebelum Beliau memasuki rumah Arqam. Abdullah bin Mas’ud
adalah orang Yang Pertama kali
mengumandangkan Al-Quran dengan suara merdu. Suatu
ketika pernah pula Ibnu Mas'ud menyebut-nyebut karunia Allah kepadanya, katanya:
'"Tidak suatu pun dari al-Quran itu yang diturunkan, kecuali aku
mengetahui mengenai peristiwa apa diturunkannya. Dan tidak seorang pun yang
lebih mengetahui tentang Kitab Allah daripadaku. Dan sekiranya aku tahu ada
seseorang yang dapat dicapai dengan berkendaraan unta dan ia lebih tahu tentang
Kitabullah daripadaku, pastilah aku akan menemuinya. Tetapi aku bukanlah yang
terbaik di antaramu!"
Ø Abdullah
bin Abbas serupa dengan Ibnu Zubeir bahwa
mereka sama-sama menemui Rasulullah dan bergaul dengannya selagi masih kecil,
dan Rasulullah wafat sebelum Ibnu Abbas mencapai usia dewasa. Tetapi ia telah
mendapat kerangka kepahlawanan dan prinsip-prinsip kehidupan dari Rasuluilah
saw. yang mengutamakan dan mendidiknya serta mengajarinya hikmat yang murni.
Dan dengan keteguhan iman dan kekuatan akhlaq serta melimpahnya ilmunya, Ibnu
Abbas mencapai kedudukan tinggi di lingkungan tokoh-tokoh sekeliling Rasulullah saw, Ia adalah putera
Abbas bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, paman Rasulullah saw. Digelari
"habar" atau kyai atau lengkapnya "kyahi ummat", suatu
gelar yang hanya dapat dicapainya karena otaknya yang cerdas, hatinya yang
mulia dan pengetahuannya yang luas.
Ø Abu Musa
al-Asy’ari, merupakan gabungan yang istimewa dari sifat-sifat utama! Ia
adalah prajurit yang gagah berani dan pejuang yang tangguh bila berada di medan
perang. Tetapi ia juga seorang pahlawan perdamaian, peramah dan tenang,
keramahan dan ketenangannya mencapai batas maksimal . Seorang ahli hukum yang
cerdas dan berfikiran sehat, yang mempu mengerahkan perhatian kepada kunci dan
pokok persoalan, serta mencapai hasil gemilang dalam berfatwa dan mengambil
keputusan, sampai ada yang mengatakan: "Qadhi atau hakim ummat ini ada
empat orang, yaitu Umar, Ali, Abu Musa dan Zaid bin Tsabit ....". Di
samping itu ia berkepribadian suci hingga orang yang menipunya di jalan Allah,
pasti akan tertipu sendiri, tak ubahnya seperti senjata makan tuan. Abu Musa
sangat bertanggung jawab terhadap tugasnya dan besar perhatiannya terhadap
sesama manusia. Dan andainya kita ingin memilih suatu semboyan dari kenyataan
hidupnya, maka semboyan itu akan berbunyi:" Yang penting ialah ikhlas,
kemudian biarlah terjadi apa yang akan terjadi... !"
Semangat para Sahabat dan Ulama bisa dijadikan cerminan
bagi para kader ideologi Hidayatullah yang siap menyumbangkan pengorbanannya di
laga perjuangan. Perjuangan yang diawali dari mengikuti sistem yang telah
terpolakan di STIS memiliki azzam yang besar dalam belajar. Kobaran semangat
yang berjiwa pemuda sudah menjadi sunnatullah karena para pemimpin umat atau para
Nabi berusia sangat muda sehingga para mahasiswa harus mempersiapkan diri juga
sebagai pemimpin umat masa depan.
Hal yang harus dipersiapkan para penuntut ilmu, seperti
apa yang telah diungkapankan Imam Asy-Syafi’I yaitu:
اخي لن تنال
العلم الا بستة
سأنبك عن
تفصيلها ببيان :
ذكاء
و حرص
و اجتهاد
و درهم
و صحبة أستاذ
و طول ازمان
Ø ذكاء
(Kecerdasan)
Potensi kecerdasan dimiliki oleh semua orang namun suatu
hal yang harus diketehui bahwasanya Mujahadahlah yang akan membedakan potensi
tersebut. Apabila potensi selalu di asah maka akan semakin berkualitas akan
tetapi apabila tidak ada ikhtiar untuk mengembangkannya maka lambat laun akan
pupus dan akan terjangkit virus Jahil Muroqqab.
Ø حرص
(Memiliki Ambisi/ Rakus)
Sebagai insan yang memiliki kerakusan terhadap ilmu maka akan
tergambarkan bahwasanya tidak ada rasa puas terhadap ilmu yang telah dimiliki,
dan tidak memilih-milih karena semua ilmu itu bermanfaat sekalipun ada ilmu
yang lebih didalami untuk melahapnya.
Ø اجتهاد
(Bersungguh-sungguh)
Hasil yang baik tercipta dari modal mujahadah, kesungguhan ini harus
berenergi karena harus banting tulang untuk memperoleh apa yang diinginkan
namun itu akan melahirkan kenikmatan. Siapa saja yang bergabung di STIS maka
akan terorganisir karena memiliki orientasi menjadi pemimpin umat yang memiliki
keterampilan dan berjiwa kekaderan.
Mulai dari sekarang harus menanamkan tekad karena tidak ada kata tunda
apabila hasilnya tidak maksimal maka itu adalah takdir. Apabila ada azzam maka
semuanya akan terlahir kemudahan. Semakin banyak tantangan maka akan memberikan
motivasi lebih, ini akan terlihat dari The Power Of Kepepet, yaitu apabila
dalam situasi kalang maka akan mengeluarkan energi ekstra,
Ø درهم
(Harta)
harus disadari dalam perjuangan ini tidak hanya membutuhkan pengorbanan
tenaga dan pikiran namun membutuhkan pengorbanan harta juga, seperti para
Sahabat Abu Bakar as-Siddiq
yang mengorbankan
seluruh hartanya, Umar bin Khattab yang mengorbankan separuh hartanya ini
dilakukan demi memperjuangkan Islam.
Ø صحبة أستاذ
(Komunikasi dengan Ustadz)
Untuk mengetahui suatu ilmu maka membutuhkan guru yang akan mengajari.
Harus ada mulazamah, rajin berkonsultasi kepada guru. Namun semuanya harus
diawali dengan niat yang
ikhlas agar hasil
yang didapatkan memiliki keberkahan. Belajar tidak memiliki tempat yang khusus
namun ilmu itu tidak ditentukan oleh fasilitas, tapi barang siapa yang
mendatangi ilmu maka akan
lebih mudah untuk
memahaminya. Sebagai thalabul ‘ilmi maka harus menyatukan antara intelektual,
spiritual dan mentalitas karena ketiganya tidak bias dipisahkan. Ilmu tidak
akan bermanfaat secara
lahiriah apabila
akhlak rusak, maka untuk mendapatkanya harus dimulai dari Tazkiyatun Nafs dan
pengikisan Thago’. Sang Guru memiliki peranan penting terhadap muridnya, karena
keberhasilan seorang murid terlahir dari didikan gurunya. Jujur memiliki
peranan penting sebagaimana dalam suatu ungkapan:
“ Ajarkan kepada
anakmu kejujuran maka kejujuran itulah yang akan mengajari anakmu !”
Ø طول الزمان
(Sepanjang Zaman)
Menuntut ilmu atau perjuangan tidak hanya dalam waktu yang singkat namun
sampai titik darah penghabisan,yang harus menghilangkan sikap menduga-duga.
Karena semuanya membutuhkan kesabaran, Allah melihat mujahadah apa yang telah
diusahakan. Gambaran sikap yang tidak pernah menyerah sebelum mendapatkan hasil
bisa menelaah sejarah ibunda Siti Hajar seorang wanita, istri dan ibu yang
menampakkan eksistensi mujahadahnya sehingga hasil dari mujahadah mulia,
huznudzan serta diiringi ketaqwaan terukir sepanjang zaman dalam kehidupan
manusia, semuanya karena ikhtiar dengan waktu lama. Untuk menciptakan kader
berkwalitas maka tidak terlepas dari lafadz-lafadz doa Orang Tua.
Resume, Jum’at, 26 Oktober 2012
Created By: Sahlah
al Ghumaisha (Alumni STIS Angkt. VII)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Baik Memberikan Pengaruh Yang Baik