Menyusup ke dalam Rongga dada Para
Mujahid dan Mujahidah Dakwah
Para kader mujahid dan mujahidah dakwah sebelum berkiprah di medan
perjuangan menyingsingkan kemenangan Islam, maka membutuhkan bekal yang
terpatri dalam jiwa. Sebelum terjun ke gelanggang maka modal spiritual telah
memadai dari pancaran cahaya ayat-ayat
al-Alaq, al-Qalam, dan al-Muzzammil. Modal
dengan menangguhkan keyakinan kepada Allah, mengetahui cita-cita mulia yang
akan diperjuangkan dan dibarengi dengan kekuatan spiritual dari sang ilahi
Rabbi. Maka tidak ada alasan lagi untuk berdiam diri di dalam kandang akan
tetapi harus bangkit dan mempersiapkan diri untuk memberantas akar- akar
kemaksiatan yang semakin membahana dan menyelimuti jiwa- jiwa yang semakin jauh
dari agamanya.
Sekarang waktunya untuk menyusupkan energi cahaya al-Muddatsir ke
dalam rongga dada. Jangan terpaut dengan kemalasan karena saatnya menjawab dan
mentaati perintah,” يأيها المدثر. قم فأنذر” (wahai orang yang berselimut, bangkitlah dan berilah
peringatan!). Singkapkan tabir berpangku tangan kemudian bersegeralah
memenuhi seruan dakwah, melangkah mengawali dengan bismillah dan niat
ikhlas serta
tekad yang bulat untuk memberi peringatan kepada manusia. Karena akan diperhadapkan
berbagai karakter manusia, maka membutuhkan kekuatan ekstra, baik kekuatan
internal maupun eksternal.
Setiap langkah dan helaan
nafas untuk merajut benang-benang perjuangan ini jangan pernah terlepas dari
dzikir-dzikir ilallah, yaitu membesarkan Allah kapan dan dimana pun kaki
berpijak. “ وربك فكبر “ (dan agungkanlah
Tuhanmu). Tidak ada satu pun yang berhak untuk diagungkan selain hanya
kepada Allah semata. Sebagai hamba yang lemah tidak sepantasnya memohon
pertolongan kecuali hanya kepada Allah, karena seorang hambalah yang
membutuhkan Allah, apabila tidak ada satu pun makhluk yang mengagungkan Allah maka itu tidak akan
pernah mengurangi ke- Maha Besaran Allah sedikit pun. Sehingga seorang mujahid
dan mujahidah dakwah tidak pantas untuk mengandalkan kemampuan diri karena akan
menumbuhkan rasa thagha dalam diri.
Para
pendakwah ilallah senantiasa selalu memperhatikan apa yang telah
dikenakannya atau pakaian yang melekat pada dirinya. Pada ayat ke tiga al-
Muddatsir ini yaitu ,”و ثيابك فطهر”(dan
bersihkanlah pakaianmu). Kebersihan pakaian ini memiliki peran penting
ketika berdakwah karena citra Islam tampak dari penampilan lahiriyah seorang
da’i. Namun tidak kalah penting lagi maksud dari “dan bersihkanlah
pakaianmua” yaitu sebelum ke medan dakwah maka bersihkanlah dirimu yaitu
membersihkan hati dan niat serta memiliki akhlak yang mulia. Memberantas niat
untuk meraih keindahan dunia atau popularitas yang hanya merupakan kesenangan
sesaat, namun apa yang akan dilakukan hanya untuk mencari keridhaan Allah
semata.
Di era modern ini
ladang-ladang maksiat bertebaran hampir di setiap sudut kehidupan. Jadi tidak
sepantasnya seorang da’i terjebak dalam kehidupan tersebut tapi senantiasa
menjaga diri untuk tidak melakukan dosa. Mengawali dakwah ini dengan
meninggalkan segala perbuatan yang keji,” والرجز فاهجر “ (dan tinggalkanlah segala perbuatan yang keji). Apakah
pantas seseorang menyeruh dalam kebaikan sedangkan dirinya sendiri bergelimang
dalam kemaksitan. Maka dari itu seorang da’i senantiasa melafadzkan istighfar
tiada henti dalam perjalanan dakwah yang mulia ini. Dan berusaha untuk
membangun lingkungan yang kondusif agar
teranalisir dari perbuatan dosa.
Bekal yang harus digenggam
erat oleh para da’i apabila tandang ke gelanggang yaitu,” ولا تمنن تستكثر “ ( dan
janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak).
Ayat ini menjadi peringatan penuh kepada seorang da’i bahwa apa yang telah
dilakukannya harus tanpa pamrih, jangan pernah menanti uluran balasan dari
manusia karena apa yang akan diberikan oleh Allah akan memiliki nilai yang
lebih besar apabila setiap yang dilakukan hanya mengharap keridhaan-Nya. Sebagaiman dalam Q.S. at-Tin ayat 6 yaitu:“Kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan kebajikan , maka mereka akan mendapat pahala yang tiada
putus-putusnya.”
Seorang da’i senantiasa mengharapkan balasan
dari Allah dan menafikan pujian dari manusia atau mengaharapkan materi, serta
tidak memilih-milih tempat atau medan untuk ajang berdakwah karena diseluruh
penjuru atau pelosok dunia banyak jiwa-jiwa yang gersang menanti pencerahan
seorang muballigh yang akan mengantarkannya kembali ke jalan yang hanif
sehingga tidak kehilangan kesenangan akhiratnya.
Tak ada gading yang tak
retak, begitu pun dengan para pejuang di medan dakwah akan menghadapi berbagai
macam ujian, karena mengawali langkah perjuangan ini harus berazzam bahwasanya
semuanya butuh pengorbanan harta dan jiwa yaitu mental yang kuat. Maka setiap
badai yang menghadang harus mengahadapinya dengan berjiwa baja. Apabila
mengawali dakwah dan belum mencapai hasil yang diinginkan maka jangan pernah
menyerah atau putus asa karena janji Allah Swt. itu pasti. Tidak akan
pernah merasakan hasil yang nikmat dan memuaskan apabila melakukan uji coba
hanya sekali atau dua kali, tapi butuh pengulangan yang berkali-kali sehingga
hasil yang diperoleh pun akan meresap kedalam jiwa. Sebagaimana ketika
mengawali bukti kerasulan Nabi Muhammad Saw., dari kata “ اقرأ “ Rasulullah saw butuh mengulangnya tiga kali sehingga balasan
Allah Swt., lebih besar daripada apa yang telah diusahakannya yaitu dengan
sempurnanya al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup hingga akhir zaman.
Tandang ke galanggang
membutuhkan kesabaran dan ketahanan dari cemohan, cacian yang silih berganti
dan inilah ujian terbesar seorang da’i karena profesi yang dijalani ini adalah
amanah yang langsung di SK-kan oleh
Allah Swt. Maka dari itu “ و لربك فاصبر “ (dan
karena Tuhanmu , bersabarlah). Karena dengan kesabaran maka akan mencapai
puncak kejayaan Islam Kaffah dan kemenangan yang hakiki. Melalui jalur-jalur al-
Muddatsir berarti telah menjalani proses untuk perubahan ummat.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Baik Memberikan Pengaruh Yang Baik