-->

Merajut Kata...


  • Home
  • About Me
  • Share
  • Bis_QaL
  • Uswatunaa
  • Tarbiyah
  • Hidayatullah
  • Lir ILir

Rabu, 06 Maret 2013

Energi Al- Muddatsir Ayat 1-7


Menyusup ke dalam Rongga dada Para Mujahid dan Mujahidah Dakwah
Para kader mujahid dan mujahidah dakwah sebelum berkiprah di medan perjuangan menyingsingkan kemenangan Islam, maka membutuhkan bekal yang terpatri dalam jiwa. Sebelum terjun ke gelanggang maka modal spiritual telah memadai dari pancaran cahaya ayat-ayat  al-Alaq, al-Qalam, dan al-Muzzammil. Modal dengan menangguhkan keyakinan kepada Allah, mengetahui cita-cita mulia yang akan diperjuangkan dan dibarengi dengan kekuatan spiritual dari sang ilahi Rabbi. Maka tidak ada alasan lagi untuk berdiam diri di dalam kandang akan tetapi harus bangkit dan mempersiapkan diri untuk memberantas akar- akar kemaksiatan yang semakin membahana dan menyelimuti jiwa- jiwa yang semakin jauh dari agamanya.
Sekarang waktunya untuk menyusupkan energi cahaya al-Muddatsir ke dalam rongga dada. Jangan terpaut dengan kemalasan karena saatnya menjawab dan mentaati perintah,” يأيها المدثر. قم فأنذر” (wahai orang yang berselimut, bangkitlah dan berilah peringatan!). Singkapkan tabir berpangku tangan kemudian bersegeralah memenuhi seruan dakwah, melangkah mengawali dengan bismillah dan niat ikhlas serta tekad yang bulat untuk memberi peringatan kepada manusia. Karena akan diperhadapkan berbagai karakter manusia, maka membutuhkan kekuatan ekstra, baik kekuatan internal maupun eksternal. 
Setiap langkah dan helaan nafas untuk merajut benang-benang perjuangan ini jangan pernah terlepas dari dzikir-dzikir ilallah, yaitu membesarkan Allah kapan dan dimana pun kaki berpijak. “ وربك فكبر “ (dan agungkanlah Tuhanmu). Tidak ada satu pun yang berhak untuk diagungkan selain hanya kepada Allah semata. Sebagai hamba yang lemah tidak sepantasnya memohon pertolongan kecuali hanya kepada Allah, karena seorang hambalah yang membutuhkan Allah, apabila tidak ada satu pun makhluk  yang mengagungkan Allah maka itu tidak akan pernah mengurangi ke- Maha Besaran Allah sedikit pun. Sehingga seorang mujahid dan mujahidah dakwah tidak pantas untuk mengandalkan kemampuan diri karena akan menumbuhkan rasa thagha dalam diri.  
  
 Para pendakwah ilallah senantiasa selalu memperhatikan apa yang telah dikenakannya atau pakaian yang melekat pada dirinya. Pada ayat ke tiga al- Muddatsir ini yaitu ,”و ثيابك فطهر”(dan bersihkanlah pakaianmu). Kebersihan pakaian ini memiliki peran penting ketika berdakwah karena citra Islam tampak dari penampilan lahiriyah seorang da’i. Namun tidak kalah penting lagi maksud dari “dan bersihkanlah pakaianmua” yaitu sebelum ke medan dakwah maka bersihkanlah dirimu yaitu membersihkan hati dan niat serta memiliki akhlak yang mulia. Memberantas niat untuk meraih keindahan dunia atau popularitas yang hanya merupakan kesenangan sesaat, namun apa yang akan dilakukan hanya untuk mencari keridhaan Allah semata.
Di era modern ini ladang-ladang maksiat bertebaran hampir di setiap sudut kehidupan. Jadi tidak sepantasnya seorang da’i terjebak dalam kehidupan tersebut tapi senantiasa menjaga diri untuk tidak melakukan dosa. Mengawali dakwah ini dengan meninggalkan segala perbuatan yang keji,” والرجز فاهجر “ (dan tinggalkanlah segala perbuatan yang keji). Apakah pantas seseorang menyeruh dalam kebaikan sedangkan dirinya sendiri bergelimang dalam kemaksitan. Maka dari itu seorang da’i senantiasa melafadzkan istighfar tiada henti dalam perjalanan dakwah yang mulia ini. Dan berusaha untuk membangun lingkungan yang kondusif  agar teranalisir dari perbuatan dosa.
Bekal yang harus digenggam erat oleh para da’i apabila tandang ke gelanggang yaitu,” ولا تمنن تستكثر “ ( dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak). Ayat ini menjadi peringatan penuh kepada seorang da’i bahwa apa yang telah dilakukannya harus tanpa pamrih, jangan pernah menanti uluran balasan dari manusia karena apa yang akan diberikan oleh Allah akan memiliki nilai yang lebih besar apabila setiap yang dilakukan hanya mengharap keridhaan-Nya.  Sebagaiman dalam Q.S. at-Tin ayat 6 yaitu:“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan , maka mereka akan mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.”
      Seorang da’i senantiasa mengharapkan balasan dari Allah dan menafikan pujian dari manusia atau mengaharapkan materi, serta tidak memilih-milih tempat atau medan untuk ajang berdakwah karena diseluruh penjuru atau pelosok dunia banyak jiwa-jiwa yang gersang menanti pencerahan seorang muballigh yang akan mengantarkannya kembali ke jalan yang hanif sehingga tidak kehilangan kesenangan akhiratnya. 
Tak ada gading yang tak retak, begitu pun dengan para pejuang di medan dakwah akan menghadapi berbagai macam ujian, karena mengawali langkah perjuangan ini harus berazzam bahwasanya semuanya butuh pengorbanan harta dan jiwa yaitu mental yang kuat. Maka setiap badai yang menghadang harus mengahadapinya dengan berjiwa baja. Apabila mengawali dakwah dan belum mencapai hasil yang diinginkan maka jangan pernah menyerah atau putus asa karena janji Allah Swt. itu pasti. Tidak akan pernah merasakan hasil yang nikmat dan memuaskan apabila melakukan uji coba hanya sekali atau dua kali, tapi butuh pengulangan yang berkali-kali sehingga hasil yang diperoleh pun akan meresap kedalam jiwa. Sebagaimana ketika mengawali bukti kerasulan Nabi Muhammad Saw., dari kata “ اقرأ “ Rasulullah saw butuh mengulangnya tiga kali sehingga balasan Allah Swt., lebih besar daripada apa yang telah diusahakannya yaitu dengan sempurnanya al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup hingga akhir zaman. 
Tandang ke galanggang membutuhkan kesabaran dan ketahanan dari cemohan, cacian yang silih berganti dan inilah ujian terbesar seorang da’i karena profesi yang dijalani ini adalah amanah yang langsung di SK-kan  oleh Allah Swt. Maka dari itu “ و لربك فاصبر “ (dan karena Tuhanmu , bersabarlah). Karena dengan kesabaran maka akan mencapai puncak kejayaan Islam Kaffah dan kemenangan yang hakiki. Melalui jalur-jalur al- Muddatsir berarti telah menjalani proses untuk perubahan ummat.


Diposting oleh Sahlah al_Ghumaishaa' di 02.15
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Hidayatullah, Tsaqofah Hidayatullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Baik Memberikan Pengaruh Yang Baik

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Arsip Blog

  • ►  2015 (1)
    • ►  Jan (1)
  • ►  2014 (29)
    • ►  Des (1)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Jun (2)
    • ►  Apr (6)
    • ►  Mar (1)
    • ►  Feb (6)
    • ►  Jan (12)
  • ▼  2013 (16)
    • ►  Des (9)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Okt (2)
    • ►  Apr (3)
    • ▼  Mar (1)
      • Energi Al- Muddatsir Ayat 1-7
  • ►  2012 (1)
    • ►  Okt (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  Mar (2)

Members

IQRO'...

  • About alGhumaishaa
  • Tanah Ogi Wanuakku...
  • Sulawesi Pa'rasanganta'
  • Pada'idi Pada'elo... Sipatuo Sipatokkong...
  • Menggurat Sejarah Tanah Air
  • Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS)
  • Kajian Feminisme
  • Islamic Thought and Civilization
  • Situs Hidayatullah
  • Miniatur Kampus Peradaban Hidayatullah
Sahlah al_Ghumaishaa'
Lihat profil lengkapku

Label

About Me Bis_QaL Cat. Ustadz Hidayatullah Khauf Lir ILir Merangkai Kata Mengikuti Kata Hati Opini Rindu Share Tarbiyah Uswatunaa

Laman

  • Home
  • Review Buku Broken Crucifix
  • Take Home...
  • Dakwah Pengembangan Masyarakat
  • Uraian Ujian Tengah Semester
  • Pergulatan Filosofis Ibn Sina, Imam al-Ghazali dan Ibn Rusyd



Tema Jendela Gambar. Diberdayakan oleh Blogger.