Jihad bil ‘Ilmi
Oleh: Ust. Adian Husaini
Segala usaha yang memiliki makna menegakkan
kalimah La Ilaha Illallah maka disebut sebagai jihad. Dari makna jihad
tersebut, maka jihad memiliki arti luas dan terdapat beberapa bagian, maksudnya
jihad bukan karena berperang dengan senjata yang mampu melukai jiwa raga
seseorang saja. Akan tetapi, di era globalisasi ini perang pemikiran ini
menempati posisi pertama sehingga jihad bil ‘ilmi yang memegang kendali untuk
memberantas virus-virus yang telah memporak-porandakkan aqidah umat Islam. Umat
Islam harus meneruskan visi rasulullah SAW., yaitu menegakkan kalimah La
ilaha Illallah.
Setiap umat Islam memiliki peran penting dalam
jihad, sehingga harus menempati posisinya masing-masing untuk menyempurnakan
shaf-shaf perjuangan Islam. Apa yang dinikmati sekarang ini adalah hasil
perjuangan para pendahulu yang rela mengorbankan jiwa raganya, sehingga mampu
mencicipi nikmatnya iman. Tugas dari thalabul’ilmi yaitu selalu memikirkan umat
agar mereka kembali mencintai Islam. Dengan adanya kelemahan bukan berarti
kelemahan itu akan melemahkan kelebihan yang ada.
Aktivis dakwah senantiasa mempersiapkan
senjata tercanggih dalam genggamannya yaitu doa berpegang teguh bahwasanya berjihad di jalan
Allah dengan harta dan jiwa merupakan perdagangan yang akan menyelamatkan diri dari
azab yang pedih. Firman Allah SWT., dalam Q.S. ash-Shaff ayat 10-11:
“wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan
suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?. (yaitu)
kamu beriman kepada Allah dan Rasul_Nya dan berjihad di jalan Allah dengan
harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”
Jihad dengan ilmu sangat berperan penting
karena penyebaran pemikiran barat semakin merajalela, maka mereka harus dilawan
dengan institusi pemikiran. Maka dari itu, harus mengetahui makar atau metode
ruang geraknya dalam perang pemikiran ini. Menuntut ilmu tidak hanya diperoleh
dari buku, tetapi ilmu dapat ditemukan pada orang-orang yang memiliki keahlian
pada bidangnya masing-masing, ilmu dapat ditemukan dimana saja, akan tetapi
ilmu akan didapatkan melalui enam hal yaitu: kecerdasan, rakus akan ilmu, tekad
yang kuat, dengan harta, berteman dengan orang-orang yang berilmu, serta
waktunya sepanjang zaman.
Ilmu bagaikan makanan yang lezat sehingga ada
nafsu untuk terus-menerus menyantapnya, sehingga akan memiliki keahlian untuk
menyajikannya dengan lezat pula. Kelezatan itu akan diperoleh secara sempurna
apabila dibarengi dengan keimanan, yaitu senantiasa memohon pertolongan kepada
Allah SWT., dengan sabar dan shalat. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S.
al-Baqarah ayat 153:
“Wahai orang-orang yang
beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, Allah
beserta orang-orang yang sabar.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Baik Memberikan Pengaruh Yang Baik