Menanti Sang Hikmah Datang Menyapa :)
Kisah seorang mahasiswi yang bertekad mengamalkan sebuah hadits “Sebaik-baik di antara kalian adalah yang bermanfaat bagi orang lain” bertepatan adanya pameran buku murah di Assalam Hypermarket Solo, Saya jadi teringat dengan salah seorang adik tingkat di asrama, yang sangat senang membeli buku bahkan suaranya masih terngiang bahwa ia sangat ingin menitipkan untuk dibelikan buku jika ada book fair.
Gayung pun bersambut, saat itu saya menghubunginya dan irama kegembiraannya
di pulau Borneo terlantunkan melalui gelombang suaranya. Ia pun telah
mempersiapkan uang yang akan di transfer dan menitipkannya pada salah seorang
ustadzah. Kebetulan waktu itu adalah hari terakhir book fair dan saya bersama
teman sudah berada di tempat tujuan sambil menunggu transferan uang darinya.
Menuggu lama, akhirnya saya menghubunginya lagi sebab uangnya belum dikirim. Namun, guratan rasa kecewa diwajahnya bisa tergambarkan dihadapanku melalui nada bicaranya. Sebab, ATM dekat pondok lagi rusak sehingga uangnya tidak bisa di transfer sehingga harapan untuk membeli buku yang telah diidam-idamkan sirna seketika.
Kisah seorang mahasiswi yang bertekad mengamalkan sebuah hadits “Sebaik-baik di antara kalian adalah yang bermanfaat bagi orang lain” bertepatan adanya pameran buku murah di Assalam Hypermarket Solo, Saya jadi teringat dengan salah seorang adik tingkat di asrama, yang sangat senang membeli buku bahkan suaranya masih terngiang bahwa ia sangat ingin menitipkan untuk dibelikan buku jika ada book fair.
Menuggu lama, akhirnya saya menghubunginya lagi sebab uangnya belum dikirim. Namun, guratan rasa kecewa diwajahnya bisa tergambarkan dihadapanku melalui nada bicaranya. Sebab, ATM dekat pondok lagi rusak sehingga uangnya tidak bisa di transfer sehingga harapan untuk membeli buku yang telah diidam-idamkan sirna seketika.
Rasa iba pun hadir, saya pun berusaha untuk membantunya dengan meminjam
uang sebesar yang ingin di transfernya. Alhamdulillah dapat, saat itu
juga kemudian membelanjakan sesuai buku yang dipesan. Karena keasyikan belanja
akhirnya uang yang tersisa untuk biaya pengiriman sebesar seratuas ribu rupiah.
Ini pun berawal akan kesalahpahaman mengenai biaya pengiriman via MSA Kargo dengan anggapan murah meriah.
Buku sudah dipaketkan maka selanjutnya adalah sesi pengiriman. Dengan penuh
semangat serta ada rasa bahagia sebab bisa mengamalkan hadits diawal kisah tadi,
tibalah di kantor pengiriman. Barang pun ditimbang, setalah karyawan menghitung
biaya pengiriman dengan berat barang 22 kg, mata sedikit melotot ketika melihat
biaya nominalnya melebihi dari biaya yang telah saya persiapkan dan uang di
dompet pun tidak mencukupi.
Paket dititpkan di kantor pengiriman untuk sementara, kemudian saya kembali
mengambil sejumlah uang kekurangannya dengan menguras uang saku sampe mencapai
saldo bebrapa perak saja. Setelah transaksi selesai saya pun kembali ke wisma.
Ada senyuman yang sedikit bermekaran karena telah berusaha menjadi orang yang
bermanfaat bagi orang lain.
Ketika asyik ngobrol dengan teman mengenai kronologi dari pengalaman selama
dua hari bersamanya, dari peminjaman uang, belanja buku, hingga proses pengiriman
yang kekurangan uang diawal transaksi. Ada tawa lepas yang mengiringi canda
kami di sore hari. Tiba-tiba, tepat pukul 17:59 nada sms masuk da handphone
telah menghentikan tawa kami. Dengan
sigap saya langsung membuka dan membacanya, mimik wajahku saat itu sedikit
berubah sebab sms tersebut dari karyawan jasa pengiriman MSA Kargo,”selamat malam, mohon maaf sebelumnya, mau info untuk
pengiriman ke tempat tujuan anda siang tadi saya salah hitung seharusnya32 kg
tapi baru terhitung 22 kg dan barang sudah di bandara. Jadi, masih ada
kekurangan 10 kg dengan biaya Rp 280.200. mohon konfirmasinya, terima kasih” katanya.
Uang di dompet telah kosong, sambil menguatkan diri kalau ini adalah
skenario Allah yang ingin melihat kesungguhan saya mengamalkan hadits yang
menjadi pegangan utama akan peristiwa ini. Keesokan harinya, tanpa diiringi
rasa kecewa karena telah menolong orang lain sambil mencari solusi yang tepat.
Akhirnya saya menghubungi paman untuk meminjam uang sebesar utang yang ada
dengan jaminan akan di ganti setelah pemilik paket telah transfer.
Statement dari salah seorang tante tempatku berbagi cerita akan kejadian
ini,”semua ini adalah
skenario Allah, Dia adalah sebaik-baik sutradara dan tidak mungkin merugikan
para aktor-Nya. Akan ada hikmah dibalik semua ini dari arah yang tidak
disangka-sangka, Insyaa Allah” cukup
menenangkan. Pukul 16.15 utang pun dilunasi, saya menitipkan uang tersebut pada
teman yang kebetulan ingin keluar untuk diserahkan kepada karyawan jasa
pengiriman.
Lisan tak henti-hentinya bergumam,”saya
akan menunggu hikmah itu datang menyapa, Allah akan membalas kebaikan dengan
berlipat-lipat kebaikan, setelah kesusahan maka akan ada dua kemudahan yang
mengiringinya janji Allah itu pasti dan tidak akan pernah ingkar, haqqul yakin”. Tepat pukul 17.50 karyawan jasa pengiriman
menghubungiku dan mengatakan bahwa biaya yang barusan saja di lunasi akan
dikembalikan sesuai keputusan dari atasannya, maka saat itu juga ia
mengantarkannya langsung yang kebetulan hanya berjarak beberapa meter dari
wisma, sambil meminta maaf atas kekurangnyamanan akan pelayanannya, saya pun
berterima kasih meskipun masih terheran-heran apa yang menjadi alasan utama
uang tersebut dikembalikan tapi hati telah berbisik,”Hikmah pertama, qadarullah” sambil tersenyum.
Selang beberapa menit, teman yang dari ATM tiba-tiba mengabarkan kalau ada
kiriman dari ustadz untuk kami berdua sebesar Rp 500.000. Subhanallah,
balasan dari Allah begitu cepat. Dua hari kemudian pemilik paket pun mengirim
sebesar Rp 500.000 untuk mengganti pijaman dari paman. Setelah menghubungi
paman meminta nomor rekeningnya, tapi di balik telepon ia hanya berkata,”tidak usah dikirim, dipakai saja uangnya untuk kuliah
biar tambah pintar” mengakhiri
pembicaraan. Selang dua pekan kemudian, Allah pun mengirimkan rejeki melalui
keluarga sebesar Rp 1.600.000. Alhamdulillah ‘ala kulli haal, hikmah yang telah kunantikan telah datang
menyapa satu persatu. Allahul Musta’an.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Baik Memberikan Pengaruh Yang Baik