Semalam nan sepi di Ghurfatu Hannan sendiri, detakan jarum jam yang selalu setia dengan putarannya dan sebentar lagi akan menunjukkan pukul 24.00, sambil membolak-balikkan lembaran demi lembaran buku bersampul hitam yang duduk manis menemaniku di ruang yang diri ini banyak menghabiskan waktu dengannya. Sesekali mencerna makna dari deretan kalimat namun pada waktu bersamaan pikiran ini di bawah ke alam lain, terperdaya oleh untaian kisah klasik.
Dua sosok istimewa tiba-tiba hadir sehingga aku pun mengalihkan perhatianku padanya. Perlahan aku berpaling dari si Sampul hitam dg stempel di Jidatnya “Bukan Untuk Dibaca” Fisik keduanya tidak hadir nyata dihadapanku tapi kehadirannya sangat terasa bersamaku. Ya merekalah Ayah dan ibu, kesalahan terbesar yang pernah kulakukan padanya tatkala hati ini berpaling darinya bak sejenak. Sadar entah tidak dengan termanjakannya diri ini dengan berbagai fasilitas dan asyiknya buaian dunia maya melalui media sosial ada facebook dan kawan-kawannya.
Aplikasi-aplikasi inilah yang lebih menarik perhatian bagi anak muda seharian mungkin akupun terjangkiti virus ini, saling tegur sapa sesama teman, update status saling comment. Hal inilah yang membuatku tersadar bahwa hatiku telah berpaling dari sepasang insan yang semestinya mendapatkan sapaan setiap saat itu. Orang tua tidak mendapatkan porsi yang sama atas untaian kata-kata manis yang telah diungkapkan pada orang lain. Ungkapan kasih sayang penuh cinta sangat sedikit yg terucapkan langsung padanya. Terlebih lagi tatkala hidup di bawah atap yang berbeda, kelalaian selalu mengintai. Namun, aku akan selalu berusaha melafadzkan rangkaian kata terindah yang telah diwariskan oleh kekasih Allah, Rasulullah saw di setiap awal do’a-do’aku di penghujung sholat wahai kekasih hatiku “Ayah Ibu” “Allahummagfirlii Waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaani shagira”
Untaian do’amu pun kunantikan disetiap langkah hijrah ilmiah ini serta belajar lebih mengenal Din-Q, yang kini membuatku jauh darimu dari perjumpaan secara nyata diantara kita. Tapi dlm raga yang lemah ini kan selalu menempatkan dirimu ditempat yang terindah dihatiku untuk saling menguatkan menahan gemuruh rindu. Insya Allah kita kan dipertemukan kembali di Istana Keluarga Kita di Tanah Bugis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Baik Memberikan Pengaruh Yang Baik