"Hidup adalah anugerah
terhebat dan terindah. Dan kehidupan sesungguhnya adalah panggung pementasan.
Tapi manusia sesungguhnya adalah Sang Pelupa". Syahdan: malam Jumat saya membaca surat al Insaan..saya kemudian mencoba
memahami kenapa dinakaman al Insaan.
Setelah saya renungi bahwa manusia dalam bahasa al Qur'an diterjemahkan dengan kata " Insaan" itu karena memiliki sifat suka" Lupa". Lupa sendiri dalam bahasa Arab diterjemahkan dengan" Nisyaan" yang diturunkan dari yurunan kata yang sama. Karena itu sebenarnya manusia lebih tepat dikatakan sebagai mahluk Sang Pelupa.
Adapun kata " Manusia" dalam bahasa Indonesia yang kita pakai
sehari-hari itu diambil dari bahasa Sansekerta yakni" Manush". Tapi
di situ dikatakan sebagai mahluk yang menciptakan dan membangun peradaban.Setelah saya renungi bahwa manusia dalam bahasa al Qur'an diterjemahkan dengan kata " Insaan" itu karena memiliki sifat suka" Lupa". Lupa sendiri dalam bahasa Arab diterjemahkan dengan" Nisyaan" yang diturunkan dari yurunan kata yang sama. Karena itu sebenarnya manusia lebih tepat dikatakan sebagai mahluk Sang Pelupa.
Lalu apa yang dilupakan manusia itu?
Kalau saja kita mau merenungi kandungan dari surat al Insan itu, maka kita akan mendapati hal-hal yang sebenarnya merupakan masalah eksitensial atau masalah mendasar manusia. Manusia pada dasarnya memiliki tabiat bertanya tentang dirinya: dari mana asalnya? hendak kemana? dan untuk apa?
Dalam bahasa dan filsafat Jawa sering disebut ungkapan:" Sankan Paran Dumadi".
Manusia diingatkan bahwa dirinya sebelumnya tidak ada. Lalu Tuhan menjadikannya ada. Manusia sebelum tidak mengetahuan apa-apa? Lalu Tuhan memberinya pengetahuan lahiriyah dengan " Kebaikan dan Keburukan".
Manusia diberikan " Hati Nurani" dan " Ego" yang keduanya menjadi kekuatan yang saling menyeimbang. Menyeimbang artinya demi tumbuh-Nya " Hati Nurani" manusia kemudian harus membunuh habis" Ego"nya.
Manusia bukan malaikat. Tapi dalam waktu yang bersamaan manusia juga bukan" Setan". Artinya: manusia tidak boleh sampai Ego terlampau menguasai dirinya.
Surat al Insaan juga mengingatkan yang suka dilupakan" an Nisyaan" bahwa di sana ada yang menantikan apa yang sedang diperbuat dan ditanam di sini. Di sana ada Surga dan ada Neraka. Keduanya adalah taman yang mereka sesungguhnya bangun sendiri lewat kehidupan dunia ini.
Tapi, sadarkah kita bahwa karena Kehidupan Dunia juga sering diingatkan sebagai sebuah" Pertunjukan Drama" ( al Lab: Play ); maka manusiapun diingatkan agar memainkan peran yang dimainkannya dengan penuh kesungguhan. Juga, mungkin harus memilih peran yang pas. Manusia diberikan bakat dan kecenderungan yang itu menjadi modal untuk memainkan peran di atas panggung.
Tepuk tangan, pujian dan jepretan kamera juga kerubutan para wartawan hendaknya tidak memalingkan manusia hingga " Ego"nya menjadi penguasa lalu lupa diri. Begitu juga kalau gagal dalam pementasan, maka hendaknya: tidak langsung ambruk dan frustasi karena hidup adalah " pembelajaran".
Dan akhirnya " Hidup" haruslah dirayakan. Siapa yang merayakan?
Maka jawabnya adalah oleh manusia lain.
Kita pada bulan ini bisa beroleh kesadaran itu: kesadaran Hidup bahwa manusia lupa kalau hidup harus dirayakan.
Seorang Ariel Sharon yang mantan PM Israel meninggal setelah dirinya hampir selama 8 bulan dibuat Koma. Tubuhnya terus membusuk perlahan hingga akhirnya mati karena tak bisa lagi menjalankan fungsinya. Sepanjang 8 tahun dia hidup disekap dengan hidung ditutup selang dan makanan dimasukkan lewat infus.
Kematian Ariel kemudian dirayakan dengan penuh suka Cita oleh orang-orang Palestina yang dulu keluarganya menjadi kebiadaan Ariel. Para pengunsi di Kamp Sabra dan Santila di Lebanon dibunuh dengan kejam: bukan hanya kaum laki-lakintya tapi juga anak, wanita dan orang tua.
Pada saat mendengar Ariel meninggal banyak dari mereka juga yang mengutuk dan mengumpat. Mereka ada yang meminta kalau Ariel terus diberikan umur panjang hingga benar-benar membusuk sebagai azab atas perbuatannya.
Tapi kini, seroang Sahal Mahfud telah pergi. Ada jutaan manusia bersedih dan kehilangan. Sahal sebenarnya sudah sangat sepuh. Beliau sakit beberapa hari kemudian dirawat di RS Semarang dan tadi Malam ( Malam Jumat ), beliau dijemput Kekasihnya.
Banyak orang menyebut-nyebut kebaikan dan ketulusan Sahal Mahfud. Beliau adalah mungkin hanya segelintir dari tokoh NU yang tidak dikuasai oleh ambisi dan bisikan Kekuasaan. Juga godaan hidup dengan bermewah-mewahan. Sahal yang Rais Am Syuriah PB NU itu adalah sosok manusia yang kepergiannya Dirayakan dengan cara-cara yang sangat hebat.
Bahkan alam dan langit, seperti dikatakan dalam riwayat juga ikut Merayakan Kematian orang-orang saleh. Mereka berduka karena alam telah mendapatkan " Kebaikan " dari amal-amal perbuatannya.
Di Pati ada sebuah Pondok yang dirintis Sahal Mahfud. Pondok ini dikenal sebagai Pondok yang memberdayakan masyarakat sekitar. Sahal Mahfud adalah tokoh yang memiliki kepedulian dan keterikatan hebat dengan nasib orang-orang di sekitarnya.
Mereka tentus aja adalah orang-orang yang paling merasakan kehilangan atas kepergiannya. Mereka merayakan kepergiannya dengan derai-derai air mata dan kepiluan karena perpisahan. Bagitu juga alam semesta, menjadi harus dan pilu karena kehilangan orang yang telah berbuat baik kepada kehidupan...
Kalau saja kita mau merenungi kandungan dari surat al Insan itu, maka kita akan mendapati hal-hal yang sebenarnya merupakan masalah eksitensial atau masalah mendasar manusia. Manusia pada dasarnya memiliki tabiat bertanya tentang dirinya: dari mana asalnya? hendak kemana? dan untuk apa?
Dalam bahasa dan filsafat Jawa sering disebut ungkapan:" Sankan Paran Dumadi".
Manusia diingatkan bahwa dirinya sebelumnya tidak ada. Lalu Tuhan menjadikannya ada. Manusia sebelum tidak mengetahuan apa-apa? Lalu Tuhan memberinya pengetahuan lahiriyah dengan " Kebaikan dan Keburukan".
Manusia diberikan " Hati Nurani" dan " Ego" yang keduanya menjadi kekuatan yang saling menyeimbang. Menyeimbang artinya demi tumbuh-Nya " Hati Nurani" manusia kemudian harus membunuh habis" Ego"nya.
Manusia bukan malaikat. Tapi dalam waktu yang bersamaan manusia juga bukan" Setan". Artinya: manusia tidak boleh sampai Ego terlampau menguasai dirinya.
Surat al Insaan juga mengingatkan yang suka dilupakan" an Nisyaan" bahwa di sana ada yang menantikan apa yang sedang diperbuat dan ditanam di sini. Di sana ada Surga dan ada Neraka. Keduanya adalah taman yang mereka sesungguhnya bangun sendiri lewat kehidupan dunia ini.
Tapi, sadarkah kita bahwa karena Kehidupan Dunia juga sering diingatkan sebagai sebuah" Pertunjukan Drama" ( al Lab: Play ); maka manusiapun diingatkan agar memainkan peran yang dimainkannya dengan penuh kesungguhan. Juga, mungkin harus memilih peran yang pas. Manusia diberikan bakat dan kecenderungan yang itu menjadi modal untuk memainkan peran di atas panggung.
Tepuk tangan, pujian dan jepretan kamera juga kerubutan para wartawan hendaknya tidak memalingkan manusia hingga " Ego"nya menjadi penguasa lalu lupa diri. Begitu juga kalau gagal dalam pementasan, maka hendaknya: tidak langsung ambruk dan frustasi karena hidup adalah " pembelajaran".
Dan akhirnya " Hidup" haruslah dirayakan. Siapa yang merayakan?
Maka jawabnya adalah oleh manusia lain.
Kita pada bulan ini bisa beroleh kesadaran itu: kesadaran Hidup bahwa manusia lupa kalau hidup harus dirayakan.
Seorang Ariel Sharon yang mantan PM Israel meninggal setelah dirinya hampir selama 8 bulan dibuat Koma. Tubuhnya terus membusuk perlahan hingga akhirnya mati karena tak bisa lagi menjalankan fungsinya. Sepanjang 8 tahun dia hidup disekap dengan hidung ditutup selang dan makanan dimasukkan lewat infus.
Kematian Ariel kemudian dirayakan dengan penuh suka Cita oleh orang-orang Palestina yang dulu keluarganya menjadi kebiadaan Ariel. Para pengunsi di Kamp Sabra dan Santila di Lebanon dibunuh dengan kejam: bukan hanya kaum laki-lakintya tapi juga anak, wanita dan orang tua.
Pada saat mendengar Ariel meninggal banyak dari mereka juga yang mengutuk dan mengumpat. Mereka ada yang meminta kalau Ariel terus diberikan umur panjang hingga benar-benar membusuk sebagai azab atas perbuatannya.
Tapi kini, seroang Sahal Mahfud telah pergi. Ada jutaan manusia bersedih dan kehilangan. Sahal sebenarnya sudah sangat sepuh. Beliau sakit beberapa hari kemudian dirawat di RS Semarang dan tadi Malam ( Malam Jumat ), beliau dijemput Kekasihnya.
Banyak orang menyebut-nyebut kebaikan dan ketulusan Sahal Mahfud. Beliau adalah mungkin hanya segelintir dari tokoh NU yang tidak dikuasai oleh ambisi dan bisikan Kekuasaan. Juga godaan hidup dengan bermewah-mewahan. Sahal yang Rais Am Syuriah PB NU itu adalah sosok manusia yang kepergiannya Dirayakan dengan cara-cara yang sangat hebat.
Bahkan alam dan langit, seperti dikatakan dalam riwayat juga ikut Merayakan Kematian orang-orang saleh. Mereka berduka karena alam telah mendapatkan " Kebaikan " dari amal-amal perbuatannya.
Di Pati ada sebuah Pondok yang dirintis Sahal Mahfud. Pondok ini dikenal sebagai Pondok yang memberdayakan masyarakat sekitar. Sahal Mahfud adalah tokoh yang memiliki kepedulian dan keterikatan hebat dengan nasib orang-orang di sekitarnya.
Mereka tentus aja adalah orang-orang yang paling merasakan kehilangan atas kepergiannya. Mereka merayakan kepergiannya dengan derai-derai air mata dan kepiluan karena perpisahan. Bagitu juga alam semesta, menjadi harus dan pilu karena kehilangan orang yang telah berbuat baik kepada kehidupan...
Oleh: Ochiem Liem

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Baik Memberikan Pengaruh Yang Baik