Pada usia ini, sangat tidak mungkin keberadaan pengajaran Al-Quran atau
pun menghafalkannya menjadi sempurna. Namun, dimulainya metode-metode
pendidikan yang paling utama dalam upaya menanamkan kecintaan anak-anak
terhadap Al-Quran sesudah tahun kedua, yakni berdasarkan keteladanan.
Aktivitas keteladanan pada fase ini merupakan bagian penting dan inti
dalam mengarahkan perilaku anak.
Karena itu, semenjak tahun kedua, jika anak kecil merasakan kecintaan
kedua orang tuanya terhadap Al-Quran dari celah-celah perilaku keduanya,
maka perasaan ini akan berpindah kepada dirinya secara otomatis, tanpa
harus ada usaha keras dari keduanya.
Jika ia mendengar lantunan
Al-Quran di rumahnya atau ia terbiasa melihat orang tuanya membaca
Al-Quran, ini semua akan melahirkan perasaan senang terhadap Al-Quran
pada dirinya.
Jika ia memperhatikan bahwa kedua orang tuanya
merasa gembira dengan adanya seorang Syaikh yang melantunkan Al-Quran
saat keduanya sedang memutar channel radio, lalu kedua orang tuanya
duduk untuk mendengarkan Syaikh tersebut dengan penuh perhatian dan
ketenangan, maka ia akan belajar menaruh perhatian dengannya dan tidak
mengutamakan sesuatu yang lain di atasnya.
Jika ia melihat
keduanya memilih tempat-tempat yang paling utama dan paling tinggi untuk
meletakkan mushaf, lalu keduanya tidak meletakkan seuatu pun di atas
Al-Quran tersebut, serta keduanya tidak meletakkannya pada tempat-tempat
yang tidak layak, maka sesungguhnya hal tersebut akan merembes ke dalam
akal sehat anak. Dengan demikian, seiring dengan berjalannya waktu, ia
akan mengetahui bahwa mushaf ini merupakan sesuatu yang agung, besar,
mulia, serta wajib dihormati, dicintai, dan disucikan.
Dari
sisi lain, jika suatu saat anak merasa risau dengan kedua orang tuanya
yang melalaikan dirinya karena membaca Al-Quran, lalu ia menghampiri
keduanya dan menghentikan aktivitas keduanya, maka keduanya janganlah
membentak dan menghardik. Namun hendaklah salah satu dari keduanya
justru merengkuhnya dalam pelukan serta berkata kepada anaknya, “Ini
adalah kitab Allah.” Dengan demikian, anak akan merasa cinta terhadap
Al-Quran Al-Karim.
Pada fase ini, anak lebih banyak belajar
dengan cara taklid (mengikuti orang lain) daripada pembicaraan. Selain
itu, dengan tanpa disadari, program “menjadikan anak cinta Al-Quran”
pada usia ini akan menjadi sempurna dan terus mengikatnya.
Jika
seorang anak tumbuh di dalam rumah yang di dalamnya hanya ada nyanyian,
musik yang memekik, tarian dansa, dan yang semisal itu, apa kiranya
yang bisa diharapkan dari si anak?
Oleh karena itu, jika
Anda hendak menanamkan kecintaan terhadap Al-Quran pada anak-anak,
berusahalah untuk menjadi teladan yang baik dalam berinteraksi dengan
Al-Quran Al-Karim.
–
Disarikan dari buku Mendidik Anak Cinta Al-Qur’an, karya Dr. Sa’ad Riyadh, 2007 M/1428 H, Sukoharjo: Insan Kamil.
Artikel Muslimah.Or.Id
Oleh: Ash Shofa


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Baik Memberikan Pengaruh Yang Baik