Naik Daun Eui !!!
Setiap pemerintah di dalam suatu negeri
mengharapkan agar warganya menjadi warga yang baik. Maka sebagai nalar bisa
disimpulkan bahwa usaha yang telah dilakukan pada Pekan Kondom Nasional (PKN)
yang digalang Komisi Penanggulangan Aids Nasional (KPAN) dan DKT
(perusahaan penyedia produk kondom) ini adalah untuk mencapai tujuan agar
masyarakat bisa menjadi produktif, tanpa infeksi HIV dan penyakit menular
seksual. Sehingga kondom pun menjadi alat utama untuk mencapai hal tersebut.
Alih-alih agar mampu mencegah penularan virus mematikan yang semakin meningkat.
Jadi teringat pada tahun 2006, ketika masih duduk di
bangku kelas 1 SMA, pernah membaca sebuah berita tentang kondom, ketika itu
keberadaannya belum gratis tapi sudah di fasilitasi untuk mendapatkannya dengan
mudah yaitu melalui ATM kondom cukup dengan memasukkan uang senilai Rp 500 maka
akan mendapat 2 kondom. Namun
sekarang telah menjadi ajang bagi-bagi gratis kepada masyarakat yang tidak
memandang status entah sudah berumah tangga atau masih lajang semua mendapat
bagian.
Pekan
ini, kondom menjadi pemeran utama diberbagai media, padahal seingat saya
sebelumnya kondom ini menjadi hal yang tabu untuk diperkenalkan secara publik atau
menjadi objek perbincangan apalagi bagi kalangan yang belum menikah. Pembagian kondom gratis menimbulkan
pro dan kontra di setiap kalangan.
“Kalaupun
dalam Pekan Kondom Nasional (PKN) 2013 ada bagi-bagi kondom gratis itu ada
aturannya tidak asal dibagikan juga," kata Kemal saat dihubungi
Liputan6.com, Selasa (3/12/2013) Aturan pembagian kondom gratis menurut Kemal
yaitu:
1.
Diberikan hanya kepada orang yang berisiko seperti penderita IMS dan HIV/AIDS
saja
2.
Melihat umur, hanya diberikan kepada yang sudah dewasa bukan di bawah umur
3.
Sudah terbukti sebagai orang yang kegiatan seksualnya aktif, ditandai dengan
surat bertanda tangan dari si penderita
4.
Harus ada surat izinnya kalau memang diberikan di kampus
"Ya
tidak asal, ngapain juga dikasih ke orang yang memang tidak butuh. Kondom itu
dipakai untuk mencegah penularan IMS dan HIV/AIDS kalau pasangan suami istri
yang sah dan tidak berisiko ya buat apa. Dan kalau mahasiswa yang tidak butuh
ya buat apa juga," kata Kemal menjelaskan. [1]sedangkan
di kampus UGM Yogyakarta sendiri terdapat mahasiswi yang mengeluhkan pembagian
kondom gratis tersebut,[2]dan tidak
ada izin dari pihak kampus.[3]disini
terlihat bahwa teori dari PKN tidak
sesuai dengan aksi maka menimbulkan banyak reaksi dari berbagai pihak.
Semestinya yang menjadi salah satu syarat juga ketika membagikan kondom yaitu
dengan melihat surat nikah yang menjadi objek, agar tidak salah ngasi pada yang
belum nikah. Meskipun pembagian kondom dilakukan setiap saat maka tidak akan
memiliki pengaruh yang optimal jika moral masih terkalahkan oleh nafsu,. Sebab Apabila
kembali kepada pelaku seks maka mereka akan tetap punya pilihan sendiri
meskipun telah mendapatkan kondom gratis, sebab KPKN sendiri tidak melakukan
kontrol selama 24 jam.
“logika kondom menkes Nafsiah
Mboy "Lebih
baik zina tanpa HIV/AIDS daripada zina dengan HIV/AIDS". Walhasil, Dipintu kampus-kampus. Di bunderan HI, di jalan-jalan; "Mas ini kondom gratis, pake sama
pasangannya ya?". Promosi awal desember agar meledak penjualan kondom di Malam
Tahun Baru. Sebuah tekanan
budaya guna membentuk pasar dengan high demand” (Bachtiar Nasir)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Baik Memberikan Pengaruh Yang Baik