Tetesan air hujan disini,
mengurai rasa dingin sehingga aku sangat membutuhkan dekapan hangat dari Ibu.
Ya mungkin ini hanya catatan kecil yang bisa mewakili diriku tuk menyatakan
bahwa saat ini aku telah dirundung rasa rindu
pada sosok istimewa, yang posisinya tidak pernah tergantikan oleh sosok yang
lain dihatiku. “IBU” !!! sambil mendengarkan berulang2 lagu dari Opick feat
Amanda –Satu Rindu- setidaknya menjadi obat penawar sesaat bagiku.
“Hujan kau ingatkan
Aku,
tentang satu rindu
di masa yang lalu
Saat mimpi masih indah
bersamamu.
Terbayang
satu wajah penuh cinta penuh kasih
Terbayang
satu wajah penuh dengan kehangatan.
Kau Ibu
uuch uch oh Ibuu….
Allah izinkanlah aku
, bahagiakan dia
Meski dia tlah jauh
biarkanlah aku berbakti untuk dirinya
Oh ibu… Oh Ibu
u..u..uu Kau Ibu..u..U..
Dikala menghitung waktu Kebersamaan saat aku
udah mulai sekolah ternyata waktuku dirumah hanya ketika mulia SD klas 2 sampai
kelas 6. Selebihnya hanya pulang ke rumah di waktu2 tertentu, dan sekarang
jarak untuk saling besua setiap saat sangat tidak memungkinkan untuk itu. Segala
sesuatu butuh pengorbanan itulah kalimat yang sudah akrab di telinga, dan saat
ini pengorbanan terbesarku adalah dengan menggadaikan rasa rinduku padamu ya
IBU.
Garis-garis usia tuamu mulai Nampak di rona
wajahmu, binaran matamu mulai kabur namun setahu aku ketika terakhir melihatmu
dua tahun yang lalu, sosokmu yang nampak nyata dihadapku uban itu belum
menggerogoti mahkotamu yang masih terlihat hitam J
Meskipun di lain waktu suara lirihmu masih
selalu terdengar melalui handphone dan wajahmu terlihat di photo, namun ada
satu yang masih belum kutemukan sebagai penawar tatkala sangat menginginkan apa
yang ada padamu yaitu “Masakanmu Ibu”
Aku Tau disetiap masakan ibu selalu ditaburu
dengan bumbu cinta yang di awali dengan doa yang disuguhkan dengan hiasan penuh
harapan. Meskipun masakan terlihat sederhana atau bisa dikatakan tidak memenuhi
standar empat sehat lima sempurna. Namun, makanan yang engkau sajikan memiliki cita rasa yang sangat sulit kutemukan diluar rumah, sebab lidah ini
sudah menyatu dan akrab dengan bumbu khas yang telah mendarah daging dalam
raga. Masakan ibu tiada duanya bagiku, terkadang dari kejauhan aku selalu
bergumam dikala berhadapan dengan makanan yang ada “Aku Rindu Masakan Ibu” Homesick Stadium 4 :’(
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati Rintangan untuk aku, anakmu
Ibuku sayang, masih terus
berjalan
Walau
tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti
udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu
kumembalas, IBU IBU
Ingin
kudekap dan menangis dipangkuanmu
Sampai
aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu
doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan
apa kumembalas, IBU IBU
(Iwan
Fals)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Baik Memberikan Pengaruh Yang Baik