
Merangkai
puzzle-puzzle kehidupan akan menemukan berbagai literature-literature yang
berbagai macam dalam tiap ukiran yang kan terlukiskan, unik, bahagia, sedih dan
rasa yang lainnya kan menyatu menjadi satu. Namun, semuanya kan menjadi indah
jika hal yang buruk mampu tertutupi dengan aksesoris-aksesoris kebaikan.
Satu langkah
yang tidak pernah terpikirkan untuk dituangkan dalam salah satu bagian lukisan
ranah kehidupan. Ya semuanya terjadi di luar dugaan Allah menginginkan ada
suatu hal yang mesti diukir dalam media lukis hidupku.
Kini aku pun
berpijak di salah satu belahan buminya yang di kehendaki_Nya, di salah satu
pulau terbesar di Indonesia yaitu pulau Jawa tepatnya di kota Solo. Salah satu
serpihan kehidupanku ternyata ada di tempat ini setelah menemukan serpihan lain
di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan Pulau Borneo.
Berada di
tempat yang asing, satu hal yang selalu menarik perhatian bagiku dimana pun dan
kapan pun jika sosok itu terpancar oleh retina mataku. Sosok yang telah
membuatku kagum sehingga menjadi episode khusus tuk selalu ku ikuti. Tapi ini
tak aneh buatku dikala menurutku mayaoritas insan di sekitarku selalu
meluangkan waktunya tuk menjajaki kehidupan yang di anggap sang Idola bagi
mereka, memiliki kesenangan tersendiri tatkala menatap langsung sang pujaan
entah dia cantik, cakep, berpakain rapi, wanginya yang memukau pokoknya yang
super duperlah menurut mereka.
Aku memiliki
kebiasaan tersendiri untuk hal yang seperti itu, yang sangat berbanding terbalik
dari tampang dan penampilan. Aku selalu mengalihkan pandanganku pada sosok
wajah yang tidak tampak mulus lagi tapi jutru pada wajah yang guratan keriputnya
sangat kenceng, postur tubuh yang mulai membungkuk, raga yang sudah tidak
mengenal aroma parfum (mungkin selalu diplesetkan, maaf ! klo dirinya sudah bau
tanah). Dialah sosok yang sudah berstatus Kakek** atau nenek**.
Sosok yang
telah menjadi objek dan tidak pernah bosan di tatap oleh bola mata ini, ku
dapatkan pelajaran dan hikmah bagaimana menjalani hidup ini. Mereka selalu
tampak bekerja keras dalam menjalani kehidupannya, dalam keadaan bungkuk
mengangkut sekarung rumput di atas pundaknya, ada yang membawa serentetan
jualan di atas kepalanya di kedua tangannya dan yang lainnya di gendong di belakangnya.
Ada yang dengan diiringi tongkat penyangga masih memiliki semangat berjalan
jauh untuk menjajakan jualannya.
Sosok
yang lain yang telah terekam yaitu ketika berangkat ke kampus dengan
mengendarai bis Atmo bertepatan di suatu rel kereta api Nampak sosok yang
sangat tua dengan jalan yang terseok-seok menjajakan makanan yang di tawarkan
kepada pengendara yang berheti ketika lampu merah, mataku pun memperhatikannya
hingga mengarah ke bagian bawah kakinya, masya Allah ternyata di bawah sengatan
sinar matahari yang sangat membakar dia tidak menggunakan alas kaki.
Hati ini sangat iba namun maafkan aku yang
belum bisa melakukan sesuatu hal untuk kalian hanya perasaan ini yang selalu
terbawa akan lentera kehidupanmu. Hanya satu pertanyaan: kenapa mereka seperti
itu kemana anak mereka seharusnya mereka sudah pensiun dari pekerjaan** yang
seperti itu ? jawabannya hanya dibarengi dengan hudznushan. “Mungkin dia hidup
sendiri”
Meskipun
status usia tua telah di sandangnya namun semangat kerjanya tidak selemah usianya.
Mereka sosok pekerja keras selagi masih bisa untuk melakukannya. Kekaguman ini
tak akan pernah padam pada kalian salah satu puzzle kehidupanku terpancarkan
pelajaran yang sangat berharga dari sosokmu.
suara lirih
membisik di telinga “Aku merindukan sosok ‘Amirul Mukminin ‘Umar bin Khattab,
pemimpin yang selalu mendahulukan kesejahteraan rakyatnya. Kemewahan tidak
tampak dari fisiknya namun keistimewaannya memancar dari dalam hatinya. Where
you, sosok yang berjiwa ‘Umar bin Khaththab ??? kami merindukanmu….. (sosok
‘Umar yang dirindukan apatah lagi sosoK Rasulullah saw Sangat di rindukan
tentunya) !!!
Cerita
selanjutnya ketika mengikuti mata kuliah Fiqh Dakwah bersama Pak Drajat.
Setelah bercerita panjang lebar yang berkaitan dengan materi kuliah. Tiba2 saja
aku ditunjuk dan ditanya,”Asal/suku njenengan apa ?,
aku Jawab
“Bugis”
beliau pun
melanjutkan pertanyaannya, “Selama di Solo, apa yang nampak berbeda yg
njenengan temukan dg di tempat njenengan ?”
dg reflex
aku pun menjawab “perbedaannya selama di Solo saya selalu melihat nenek/kakek
yg masih bekerja entah jualan, bekerja di sawah dll. Yg menurut saya mereka itu
tidak seharusnya berada di tempat tersebut, klo di tempat saya nenek/kakek
biasanya hanya tinggal di rumah saja dan tidak bekerja lagi sebab sudah menjadi
tanggung jawab anak-anaknya”(jawaban yg sesuai referensi yg sudah menari-nari
dan bergelantungan di kepala, karena sebelum ditanya kakek**/nenek** telah
mejadi objek yg selalu mengalihkan perhatiannku padanya tatkala mata ini
menangkap sosoknya di mana saja kutemukan.
(Aku
menjawab dengan polosnya)
Sontak Pak
Drajat langsung menimpali,”kalau begitu masa depan saya SURAM dong”
Serentak
temen2 dikelas pada ketawa,”hahaha” dan ada yg nyeletuk “klo begitu, setelah
tua jadi orang Bugis aja biar hidupnya terjamin !”
(entahlah
!!! bisa jadi di tempat saya secara umum, masih ada kakek/nenek juga yg
bernasib sama dengan apa yang saya lihat di tanah rantau.Namun, inilah salah
satu bentuk kekaguman ana dengan orang2 Jawa yg penuh dengan Kerja Keras hingga
hari tuanya sekalipun :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Baik Memberikan Pengaruh Yang Baik