Ia adalah keunikan
tiada batas. Tapi dia juga keajaiban yang luar biasa. Seperti sebuah samudera
misteri yang sulit diselami dan dipahami.Juga tak bertepi.
Kita bisa membayangkan kalau saja kita berdiri tegak di tepian itu. Tepian yang sebenarnya bukan tepi juga? Bukan batas?
Soal " waktu " dari jaman ke jaman muncul para pemikir dan filsuf yang berusaha menjelaskan soal hakekat " sang Waktu".
Apakah waktu itu benar-benar ada? Ada orang merasa dikejar-kejar waktu? Ada juga merasa kehabisan waktu? Ada juga yang merasa bahwa waktu berlalu begitu cepat hingg ada ungkapan:" Waktu melesat secepat anak panah".
Tapi ada juga yang mengatakan bahwa:" Waktu berjalan begitu lambat. Waktu adalah kejemuan. Waktu adalah kejenuhan. Dan, akhirnya waktu adalah Sang Pembunuh".
Unik
Seorang teman pernah mengapdet di statusnya dan berbicara soal " menejemen
waktu". Dia mengutip dan melekatkan surat al Ashar di statusnya. Kemudian
dia juga menjelaskan kalau " waktu itu begitu pendek seperti waktu "
ashar" jelang magrib". Maksudnya: waktu salat ashar itu.Kita bisa membayangkan kalau saja kita berdiri tegak di tepian itu. Tepian yang sebenarnya bukan tepi juga? Bukan batas?
Soal " waktu " dari jaman ke jaman muncul para pemikir dan filsuf yang berusaha menjelaskan soal hakekat " sang Waktu".
Apakah waktu itu benar-benar ada? Ada orang merasa dikejar-kejar waktu? Ada juga merasa kehabisan waktu? Ada juga yang merasa bahwa waktu berlalu begitu cepat hingg ada ungkapan:" Waktu melesat secepat anak panah".
Tapi ada juga yang mengatakan bahwa:" Waktu berjalan begitu lambat. Waktu adalah kejemuan. Waktu adalah kejenuhan. Dan, akhirnya waktu adalah Sang Pembunuh".
Unik
Menejemen waktu banyak dibicarakan oleh tokoh motivasi paling menggetarkan Stephen R. Covey. Siapapun yang telah membaca bukunya" The First Thing First" itu pasti akan paham.
Tapi saya membayangkan bahwa waktu yang dibicarakan Stephen adan temanku itu adalah waktu yang mengada. Waktu yang bisa diukur. Waktu yang bisa dikalkulasi. Dan tentu saja waktu yang bisa dipetakan menjadi: waktu silam ( past ), waktu sekarang ( present ) dan waktu yang akan datang ( future ).
Namun, mari kita renungkan: benarkah itu ada?
Maka jawabnya: tidak ada. Waktu yang silam ada karena ingatan kita ( memori dan kenangan ). Waktu yang akan datang, itu hanyalah impian dan khayal kita. Karena itu?
Waktu bisa dikatakan hanyalah ilusi. Waktu tak lebih hasil kreasi imajinasi manusia belaka.
Bisakah kita menyadari bahwa waktu itu " ilusi" dan " imajinasi" belaka?
Coba kita ingat: kenapa kadang waktu bergerak begitu cepat?
Dan kadang: kenapa waktu bergerak lamban dan bahkan, nyaris berhenti?
Itu karena semua adalah hanya produk imajinasi yang kita kreasi.
Saya ingin mengajak teman-teman berfikir tentang makna" al ashr" di surat yang ke 103 kitab Suci Al Quran itu.
Benarkah itu bermakna waktu ashar?
Maka jawab yang tegas adalah bukan:
Kata ashr itu terjemah dari kata" waktu yang sekarang" atau dalam istilah modern adalah" Modern " itu sendiri. Tapi kalau kita mau meluaskan pikiran kita dan mau merenung maka kata" al ashr" itu tak lain adalah" dunia ini itu sendiri". Maksudnya? Waktu yang kita milik sekarang ini. Bukan yang silam dan bukan yang akan datang yang semuanya adalah hanya ilusi.
Kenapa dalam surat itu Allah Swt. berfirman bahwa Dirinya bersaksi atas waktu dunia sekarang ini?
Maka jawab yang tepat adalah: karena ia sebuah misteri besar. Banyak orang salah memahami hakekat waktu. Waktu dipahami dengan akal pikiran lalu hendak dimenej dan dipilah. Padahal, waktu itu tak lebih hanyalah imajinasi pikiran manusia sendiri.
Alloh Swt. sering sekali membuka awal surat dengan hal-hal yang bersifat misteri. Hal-hal yang manusia tergugah untuk membayangkan dan memahami. Tapi sayangnya? Manusia nyaris selalu gagal/
Dalam surat al ashr dikatakan bahwa manusia itu semuanya merugi. Siapapun dia yang bernama dan dalam kategori spesis manusia. Tak terkecuali. Tidak juga kaya miskin, pintar bodoh, kampungan modern dan seterus.
Semua tanpa kecuali dipastikan merugi.
Lalu Alloh Swt. mengingatkan: Kecuali orang yang beriman, beramal saleh dan berwasiat dalam kebenaran".
Agaknya kita kadang kurang menyadari bahwa di era dimana Humanisme berkembang dengan begitu hebat: manusia berbuat baik adalah karena motivasi kemanusiaan ( altruisme ). Alasan altruisme atau cinta kepada sesama itu kadang bisa bertabrakan dengan semangat ajaran agama.
Pasal orang mungkin tidak sadar kalau" altruisme" itu bisa menyeret kepada" riya" dan tidak " ikhlas".
Katakanlah kalau" altruisme" itu barulah tangga awal kebaikan. Tapi itu bisa membuat orang terpeleset kepada kesia-sian. Karena itulah kemudian " Iman kepada Alloh yang benar dan lurus " itu menjadi alasan utama agar tidak merugi seperti dikatakan dalam surat al Ashr itu.
Kedua bahwa hanya amal saleh atau kebajikan yang dilakukan untuk perbaikan dan meningkatkan kesejahteraan hidup manusialah yang langgeng.
langgeng?
Dalam padangan sejarah dan peradaban: hanya kebaikan yang bisa bertahan dan tetap hidup. Tokoh-tokoh yang mengubah dunia dan teladan bagi tegaknya keadilan adalah contoh dari pengertian makna" langgeng".
Dan sebaliknya: Merugi bila tidak berbuat kebajikan ketika masih hidup ( al ashar: ada di dunia ini ).
Banyak orang jahat masih hidup: punya nyawa dan bergerak juga ada di dunia ini. Tapi mereka tak ubahnya orang-orang yang sudah mati. Dilupakan dan bahkan ada yang dicemooh dan dikutuk seperti para koruptor sekarang ini.
Dan ketiga: kenapa kesabaran dan kebenaran orang harus saling mengingatkan?
Karena sesungguhnya kebenaranlah yang tidak akan pernah mati. Kebenaran bisa dibungkam. Bisa ditimbun dengan beton dan dicor. Tapi suatu saat kebenaran akan muncul juga.
Karena lapisan yang menutupi kebenaran itu kadang begitu kuat dan hebat? Maka " kesabaran adalah satu-satunya' cara untuk memenanginya.
Kasus Century yang melibatkan banyak orang karena menggarong 6.7 Trilyun awalnya aman-aman saja. Kita saksikan rapat paripurna d DPR semua anggota dewan nyaris mlempem. Tapi kini?
Kebenaran tidak bisa ditimbun dengan apappun. Meski pansus Timwas juga penuh dengan kepentingan pribadi dan partai.
Kita juga pasti tidak lupa kalau di jaman Megawati ada BLBI yang mengemplang uang negara hingga 144.5 trilyun?
Kita tidak bisa membayangkan betapa hebat negeri ini dijarah dan dirampok? Korupsi pejabat dan dpr gila-gilaan. Tapi kita negara ini tetap bisa tegak dan tidak ambruk seperti Yunani dan Argentina?
Dan akhirnya Al Quran tetaplah yang benar: bahwa segalanya yang dunia ( al ashr ) hanyalah rekaan dan imajinasi juga ilusi manusia belaka.
Karena itu: tanpa Iman yang benar, amal saleh yang didasarkan pada iman yang benar dan terus memperjuangkan tegaknya kebenaran: semua umur dan waktu yang dirasakan juga dialami selama di dunia ini hanyalah " Kerugian Belaka".
Kita mungkin akan sadar kalau kita sedang berjudi dengan yang" ilusi" ( al Ashr ) itu.
Oleh: Ochiem Liem


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Baik Memberikan Pengaruh Yang Baik